HASMI "bapak" Gundala Putera Petir



Kalau anda pernah mbaca buku-buku komik tahun 70an, pernah nggak mbayangin kita tiap hari melihat proses pembuatan komik itu?

Pertama, beli kertas kemudian dipotong-potong (kurang lebih) seukuran A3. Kemudian diberi garis sebagai pembatas gambar.

Setelah itu, kertas diberi tulisan yang merupakan pembicaraan/pemikiran dari tokoh-tokoh cerita dan kadang dilengkapi dengan keterangan adegan.

Saat menulis ini harus sudah dibayangkan gambar apa nantinya yang akan dilukis pada kertas itu.

Begitu beberapa lembar sudah selesai ditulisi, maka dilanjutkan dengan penggambaran adegan. Kadang didahului dengan sketsa tapi kadang langsung dengan kuas.

Begitulah yang kualami sehari-hari bersama HASMI sang pencipta atau “bapak” dari Gundala Putera Petir. Hampir setiap hari, bila mas Haryo (HASMI) ada, aku selalu menyempatkan diri untuk main ke rumahnya. Kadang memang tidak menungguin dia ngelukis, tapi kadang-kadang malah ngobrol ngalor ngidul.

Topik obrolan antara lain, silat, hidup dan kehidupan, teater, fotografi, cewek dan lawak. Tentu saja tidak lupa adalah ide-ide tentang tokoh ciptaannya. Hampir semua obrolan dia pimpin dengan baik, baru kalau ngobrol tentang dunia foto aku agak lebih bisa menjadi pembimbing.

Terakhir aku jumpa dia ketika dia ikut rombongan teater gandrik di surabaya. Itu sudah lima taun lalu, sekarang aku nggak tahu lagi kabar kaburnya.

Jadi inget, dulu perna “taruhan” siapa yang lebih cepet beli mobil. Insinyur atau pelukis?

He..he..he… itu benar-benar taruhan yang konyol, sehingga tidak pernah kita bahas lagi.

source 1

source 2

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.