Taqobballahu minna waminkum : Semoga amal kita diterima Allah

takbir keliling Yogya (10)

Selain ucapan yang sering kita dengar, maka ucapan yang disunahkan nabi Muhammad SAW saat lebaran adalah “Taqobballahu minna waminkum” dan bukan Minal Aidzin wal faidzin atau mohon maaf lahir dan batin.

Idul Fitri memang dimaknai sebagai bulan pembakaran dosa dan penimbunan pahala, jadi kalau amal yang kita kerjakan selama Ramadhan tidak diterima Allah tentu sia-sia kita menjalankan semua ritual ibadah puasa.

Saat Ramadhan berakhir, maka salah satu harapan terbesar dari kita bukan hanya slaing bermaaf-maafan, tapi bagaimana agar semua amal kita di bukan puasa diterima Allah swt. Harapan kita, semoga amalan  kita tersebut mampu meperberat timbangan amal baik kita, sehingga bisa masuk sorga tanpa mampir ke neraka.

Aku selalu terkesan dengan doa Abu Nawas, tentang betapa tak patutnya dia masuk sorga, karena dosanya yang begitu banyak bak pasir di laut. Abu Nawas berdoa, meskipun dia merasa tak layak masuk sorga tapi mohon jangan dimasukkan neraka, karena dia pasti tak sanggup menjalaninya.

Ada hal yang aneh sering kujumpai saat lebaran, seperti saat ini. Sering kali aku menerima ucapan Idul Fitri, baik lewat SMS, imil maupun socmed yang lain. Yang paling lucu dan bikin senyum-senyum sendiri adalah pesan pendek alias SMS.

Begitu banyak SMS yang masuk dan kalau kubalas dengan delay beberapa menit, maka pesanku pasti dibalas lagi dengan pesan yang sama, yang baru saja kubaca tapi mungkin beberapa saat lalau baru dikirimkan. Maksudnya begini, misalnya aku mendapat SMS dari bapak A tentang “minal aidzin wal faidzin”, berselang beberapa menit baru SMS itu kubaca dan langusng kubalas dengan pesan “Taqobballahu minna waminkum, semoga amalan kita dietrima Allah swt. Amin”, maka dalam hitungan detik, muncul lagi SMS dari bapak A dengan isi “minal aidzin wal fadzin” yang sama persis.

Menurut analisaku, bapak A ini lupa kalau sudah mengirim SMS padaku dan tergopoh-gopoh megirim balik ucapan lebaran yang sudah disimpan di memori ponselnya.

takbir keliling Yogya (14)

Kalau kita menjumpai ucapan lebaran yang cantik, indah dan puitis, maka biasanya kita juga mendapat SMS dari orang lain yang isinya persis sama. Apalagi kalau SMS lucu, pasti sering kita terima dari beberapa orang sahabat kita.

Ada lagi satu hal yang sangat berkesan bagiku. Terjadinya beberapa tahun yang lalu. Saat aku bertemu dengan seorang bos dan menyalaminya, maka dia dengan tergopoh-gopoh membalas salamku dan berucap, “Maaf ya Mas Eko, aku belum balas ucapan lebarannya, maaaaaf sekali”.

Akupun jadi nyengir sendiri, karena aku kebetulan tahun itu sedang tidak mengirim ucapan lebaran kemana-mana.

Lebaran memang momentum yang paling unik. Dia mampu menggerakkan roda perekonomian menjadi begitu kencang dan irrasional tetapi nyata. Dia sudah bukan hanya milik kaum muslim saja, tapi sudah menjadi milik masyarakat Indonesia.

Perbedaan penentuan tanggal 1 Syawwal sudah bukan menjadi perdebatan runcing, meskipun masih saja ada yang mempermasalahkannya.

Mari kita ikuti ajakan nabi besar Muhammad SAW, ucapkan “Taqobballahu minna waminkum, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah swt. Amin”

Salam sehati

Takbir keliling (khas) di Kota Yogyakarta

Takbir keliling (khas) di Kota Yogyakarta

+++
Ditulis oleh Blogger Jogja Berhati Nyaman

Real Masjid : Komik lucu penuh hikmah (resensi)

“Hahahaha….lucu bener judulnya, memang ada hubungan dengan Real Mataram?”, kataku melihat sebuah buku berjudul Real Masjid.

“Pegang ya, aku ambil fotonya..”, kataku pada anakku.

Komik Real Masjid

Komik Real Masjid

Rupanya anakku tertarik dengan buku itu dan memboyongnya ke rumah bersama dengan buku lain yang dijual di sebuah toko buku langganan kita.

Malamnya buku itu tidak sempat habis dibacanya dan baru paginya diserahkan padaku.

“Ini pak”, kata anakku

“Bagus ya?”

Anakku mengangguk sambil tersenyum dan akupun membawa buku ini ke ruang depan untuk membacanya. Ada sepatah dua patah kata dari penulis di halaman depan tapi aku tidak begitu perhatian. Aku langsung membuka halaman dalam.

“Ini dari depan ke belakang kan membacanya? Bukan kayak komik Jepang kemarin?”, kataku sambil memastikan. Soalnya minggu lalu aku membaca buku komik terbitan komikus Jepang dan salah membaca.

“Ya ampun, ini komik ya? Tak pikir tadi kumpulan cerpen rohani atau apa gitu”, kataku kaget melihat ternyata buku Real Masjid adalah buku komik.

Dalam minggu akhir ini dua kali jadinya membaca buku komik nih. Pertama berjudul Ibu dan ini yang ke dua berjudul Real Masjid.

Pada halaman pertama aku langsung menangkap esensi buku ini. Cocok sekali untuk anak-anak untuk mendidik karakter mereka tanpa harus menggurui. Cocok juga untuk orang dewasa agar kupingnya merasa dipelintir oleh gambar-gambar kartun sederhana ala garuda boy.

Penulisnya memang membuat komik ini untuk menasehati dirinya sendiri, tapi para pembaca pasti akan ikut ternasehati oleh komik ini.

Semua dibawakan secara ringkas dalam empat gambar atau dalam beberapa seri dengan setiap seri rata-rata 4 gambar.

Nasehat tentang tidur di Masjid disampaikan dengan gambar yang sederhana saja. Ada seseorang yang sendirian di masjid dan kemudian merasa senang ketika ada orang lain ikut masuk ke masjid. Ternyata yang datang belakangan bukan datang untuk sholat tapi datang untuk numpang tidur.

Demikian juga nasehat tentang adab mendengarkan kutbah Jumat, disampaikan dengan gambar yang sangat sederhana, tapi mudah dipahami.

Pengarangnya berhasil membuat cerita yang sederhana dan ilustratornya membuat cerita tersebut menjadi lebih hidup.

Anakku yang masih SD terpingkal-pingkal membaca buku komik ini, sementara yang sudah SMA juga menganggap buku komik mini ini sangat menarik. Mudah dicerna tanpa harus menggurui.

Selamat membaca dan mari kita budayakan membaca di kalangan terdekat kita.

Real Masjid? Kenapa Tidak!

Tendangan Dari Langit : Film yang laik tonton (resensi)

Tadinya mau nonton Kung Fu Panda atau Transformer, tapi ternyata dua film itu hanya main di Empire jalan Solo dan tidak main di Amplas (Ambarukmo Plaza) Yogyakarta, jadinya kita sepakat nonton film Tendangan dari Langit!

Tentu saja kedua anakku yang cewek tidak punya pilihan lain selain nonton film ini. Tayangan di studio yang lain lebih tidak menarik bagi mereka, jadi dipilihlah yang paling menarik dari tayangan yang tidak menarik.

Tendangan dari Langit

Tendangan dari Langit

Film yang tadinya kupikir biasa-biasa saja ini ternyata makin ke belakang makin menarik ceritanya. Awal cerita dan tema sepertinya mirip dengan film-film olah raga Indonesia, baik tentang bulu tangkis atau sepak bola, tetapi film ini digarap dengan lebih halus dan lebih kental nuansa kejawennya.

Peran Sudjiwo Tedjo sangat menarik di film ini, mirip dengan peran Mamiek Sri Mulat, seorang ayah yang sangat tidak mendukung anaknya berolah raga. Mereka berdua mempunyai sejarah sendiri tentang olah raga yang digandrungi oleh masyarakat Indonesia, baik itu bulu tangkis maupun sepak bola.

Peran sentral Wahyu yang dimainkan dengan apik oleh Yossie, mampu membuat penonton terkuras emosinya. Kecemerlangan Wahyu dalam mengocek bola dan dunia SMA yang begitu cerah ceria mampu digambarkan dnegan baik oleh Hanung Bramantyo, sang sutradara.

Kehidupan coach Timo di Persema juga digambarkan secara singkat dalam film ini. Strategi pelatih yang salah ternyata berimbas bagi anak-anaknya yang diganggu oleh para pendukung Persema.

Permusuhan dan persahabatan antara Arema dan Persema digambarkan Hanung dalam sebuah dialog singkat yang menyentuh.

“Pak mau ke Malang? Saya mau numpang”, tanya Wahyu ketika harus ke Malang tapi sepeda motornya bocor ban.

“Kamu Persema ya?”, jawab salah satu penumpang mobil

“Iya pak”

“Aku Arema!”

Penontonpun langsung terdiam, dan beberapa tertawa kecut. Mereka bisa merasakan aura perbedaan antara Persema dan Arema. Kalau di Yogya seperti PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta. Hanung kemudian menambahkan dialog tambahan yang membuat suasana jadi cair kembali.

“Aku Arema, kalau kawanku ini Persema”, kata sang penumpang mobil itu

Wahyupun akhirnya bisa tersenyum lebar karena dapat ikut menumpang mobil ke Malang untuk ikut try out. Warga desa Wahyupun jadi ikut gempar ketika mendengar bahwa Wahyu diterima di Persema. Sebuah klub yang tiap main mereka tonton, ternyata akan memainkan anak dari kampung mereka.

Sudjiwo Tedjo tersenyum renyah ketika tahu anaknya terkenal di kampungnya. Sangat berbeda dengan jaman ketika dia masih seusia Wahyu anaknya.

Film inipun seperti biasa dibumbui dengan cerita cinta yang tidak terpisahkan dari alur utama cerita. Wahyu yang jatuh hati pada Maudy, ternyata mendapat tanggapan yang membuat Wahyu selalu seperti melayang di udara.

Maudy Indah pacar Wahyu Tendangan dari Langit

Maudy Indah pacar Wahyu Tendangan dari Langit

Akhirnya memang Wahyu melakukan kesalahan yang fatal bagi Maudy, sehingga dia harus dicampakkan dari kehidupan Maudy. Dua kegembiraan Wahyu telah dirampas oleh kekejaman dunia dan Wahyu hanya bisa meratapi nasibnya. Malam-malam yang gelap menjadi kawan Wahyu sampai akhirnya dia menentukan bahwa dia harus memilih. Cinta pada Maudy atau pada Bola.

“Aku sudah menentukan pilihanku pak. Aku memilih BOLA!”

Sebuah pilihan yang sulit, karena sebenarnya dua-duanya mempunyai tantangan yang berat. Maudy jelas-jelas telah menutup hatinya buat Wahyu dan Bapaknya masih trauma dengan kejadian masa mudanya ketika berhubungan dengan bola dan Persema.

Kembali Hanung membuat cerita mengalir dengan nyaman dan film ini langsung mirip dengan film import dari Hollywood. Tonton saja kalau penasaran dengan film ini. Bersama keluarga tentu lebih meriah dan keluar dari bioskop bisa saling bercerita, saling berkomentar tentang Wahyu maupun Irfan Bachdim.

Film ini tidak hanya mempunyai cerita yang mengalir lancar, tapi juga penuh dengan pemandangan indah dari Bromo. Ada juga cuplikan pertandingan bola yang sangat menarik antara Persema melawan lawan-lawannya.

Mari kita nikmati kota Yogya yang Istimewa dengan tontonan yang istimewa juga.

+++

Review ini ditulis oleh anggota Blogger Jogja Berhati Nyaman
Gambar diambil dari Facebook Maudy dan Tendangan dari Langit

Live twit @eshape Seputar Mudik Jakarta Yogya, start Kamis jam 16.00

“Aku akan Live twit @eshape Seputar Mudik Jakarta Yogya, start Kamis jam 16.00″, begitu kataku pada teman-teman yang akan mudik maupun yang selalu jadi pemerhati para pemudik. Maksudnya agar yang ingin mengetahui kondisi lalu lintas mudik secara real time bisa follow aku di akun twitter @eshape.

“Hahaha…..mas Eko mah tiap minggu juga mudik!”, kata kawanku

Aku jadi tersenyum kecut. Kupikir benar juga ya, cuma ada bedanya mudik mingguanku dengan mudik kali ini. Pada waktu mudik mingguan, tidak ada yang merasa perlu untuk mengetahui kondisi real time saat aku di jalan, tapi kali ini banyak teman yang ingin tahu bagaimana kondisi jalan dari Jakarta ke Yogya lewat jalur selatan dan aku merasa bisa memberi laporan itu.

Aku akan pakai aplikasi waze untuk mengetahui kondisi real time di sekitar lokasiku berada. Akupun bisa langsung memberi masukan ke database waze tentang kondisi lalu lintas di lokasiku secara real time dan akan dipakai oleg para wazer yang berada di sekitar lokasiku.

Sebagai wazer sejati, aku sambungkan laporan ke database waze ke akun twiter, dengan demikian kondisi real time lalu lintas bisa juga dipantau melalui akun twitterku di @eshape. Aku juga akan mention radio El Shinta, sehingga akan diretwit (RT) oleh El Shinta.

mudik di twitter hashtag #seputarmudik

mudik di twitter hashtag #seputarmudik

Aku juga menghidupkan latitude, sehingga teman-teman pengguna latitude bisa memantau pergerakanku. Hanya saja, bagi yang mudik dan meninggalkan rumah dalam kondisi yang kurang aman, disarankan untuk tidak update status. Hal ini bisa memancing para tamu tak diundang menyatroni rumah kita dan mengambil barang yang mereka sukai.

Sebagai senjata utama untuk melakukan Live twit @eshape Seputar Mudik Jakarta Yogya, start Kamis jam 16.00 ini, aku memakai Ipad2 dengan simcard XLUnlimited yang ditanamkan disana. Harga simcard ini seingatku 350 ribu untuk pemakaian setahun. Harga yang cukup murah untuk layanan internet unlimited.

Kali ini aku akan menjajal keperkasaan XL di sepanjang jalur selatan di saat mudik. Apakah dia sekuat hari-hari sebelum trafik data ada di puncak pemakaian, ataukah dia akan menjadi lemot? Semua akan terjawab nanti malam sampai besok pagi. Kalau lancar, jempol deh buat XL.

Gadget pendamping Ipad2 adalah Samsung SII Android dengan kartu halo di dalam bodinya. Biasanya telkomsel tidak ada masalah dengan kekuatan sinyal dimanapun kita berada, selama di pulau Jawa. Aku pakai sebagai pendamping, karena baterenya yang sangat boros, sehingga belum layak untuk tampil sebagai gadget utama.

Kiper ketiga, sebagai pendamping Samsung adalah Blackberry Onyx2. Secara otomatis BB ini akan mati pada jam 23.00 dan hidup lagi pada jam 04.00. Fungsinya hanya untuk menjawab pesan BBM dan membaca milis yang sangat nyaman kalau dibaca dengan BB.

Bersama kawan-kawan aku juga mengaktifkan situs seputar mudik di http://seputarmudik.wordpress.com Kulihat pada minggu in langsung melonjak tinggi pengunjungnya. Bagi teman-teman yang ingin berbagi informasi seputar mudik dipersilahkan mampir dan berbagi informasi disana.

Sampai jumpa di acara Live twit @eshape Seputar Mudik Jakarta Yogya, start Kamis jam 16.00.

Kisah Hikmah : Kecewa Berat

“Terus terang aku kecewa berat dengan sistem pembagian bonus kali ini”

“Memang kenapa? Bukannya kita harus bersyukur dengan adanya pembagian bonus ini?”

“Mengapa harus bersyukur kalau kita didholimi seperti ini?”

“Astaghfirullah, darimana ketemu cerita seperti itu?”

“Lihat saja apa yang sudah kita kerjakan untuk pabrik ini. Semua berjalan lebih hebat dari yang direncanakan. Semua target terlampaui dan permintaan pasar terus meningkat. Coba apa artinya semua kesuksesan kita itu?”

“Artinya ya kita hari ini dapat bonus yang tidak kusangka-sangka”

“Kamu puas Din?”

“Iya jelas mas. Hari-hari ini benar-benar hidupku berlimpah bonus. Semua datang dari berbagai penjuru dan semuanya tidak pernah kusangka-sangka datang di hari-hari belakangan ini. Sungguh aku malu dengan diriku yang sering kurang mensyukuri nikmat Tuhan”

“Din, kamu tidak lihat betapa kita dikerjai oleh bos kita?”

“Dikerjai apanya mas? Dapat bonus kok dibilang dikerjain”

“Ah..kamu susah diajak ngomong Din. Berapa milyard keuntungan yang bisa didapatkan pabrik ini dan berapa yang kita terima? Bukankah itu sangat tidak imbang?”

“Ah..menurutku imbang kok. Dua kali gaji sudah lebih dari cukup mas, belum lagi rejeki dari warung nasiku yang tiba-tiba kelarisan tanpa sebab yang jelas. Anak-anakku yang mendapat bea siswa di sekolah, istriku yang mendapat arisan dan bingkisan dari Koh Bing gara-gara aku menolong proses persalinan istrinya. Semuanya itu terlalu banyak buatku dan alhamdulillah aku telah mensucikan semua itu dengan zakat yang kulebihkan sedikit”

“Dasar kamu Din, susah diajak ngomong…”

Udin masih tertawa-tawa ketika Samidi meninggalkannya. Rasanya hari ini Udin merasa masih akan menerima rejeki lagi yang lebih hebat dibanding rejeki yang dia terima akhir-akhir ini. Seharian ini dia aktif sholat sunah dan tadarus sampai mulutnya berbusa.

doa

“Assalamu’alaikum Din..”

“Wa’alaikum salam pak Dhe. Dicari Samidi tadi pak Dhe”

“Hahahaha…pasti masalah ketidak puasan akan bonus yang diterima”

“Benar pak Dhe. Dia tampak gusar dan kecewa berat dengan bonus yang diterimanya. Padahal sebagai seorang pejabat keuangan di pabrik ini pastinya dia menerima lebih besar dari kita. Iya kan Pak Dhe?”

“Benar. Pak Samidi pasti menerima dua atau tiga kali lipat dibanding kita”.

“Nah, kalau kita merasa sudah berlebih menerimanya, maka mestinya pak Samidi lebih bersyukur dibanding kita. Iya kan Pak Dhe? Tapi kok kulihat pak Samidi malah kecewa ya?”

“Memang aneh kalau dipikir Din. Rejeki sebesar ini lebih baik memang kita syukuri, langsung kita bersihkan dengan zakat. Kita harus berterima kasih pada para panitia zakat yang mau membantu menyakurkan rejeki kita”

“Kalau sehabis menerima rejeki terus kita jadi rajin beribadah, apa diperbolehkan?”

“Yah sebaiknya memang meningkatkan ibadah, tapi jangan sampai terjerumus dalam kesenangan dunia. Ibadah jadi tidak khusyuk karena mengharapkan rejeki materi dan bukan mengharapkan kasih Tuhan”

“………………….”

“Jangan sampai mulut kita berbuih membaca Kitab Allah, tapi pikirannya ke rejeki materi dan bukan ke arti kalam Illahi yang kita baca”

“Astaghfirullah…”, dalam hati Udin merasa ditelanjangi oleh Pak Dhe. Semua ucapan pak Dhe sanagt cocok dengan kondisi dirinya saat ini. Bukankah dia jadi rajin membaca kitab Allah karen amengharap  rejeki materi dan bukan karena ingin mendekatkan diri pada Tuhan.

“Aku pernah cerita tentang menanam padi hasilny apadi dan rumput kan?”

“Iya pak Dhe. Menanam rumput hasilnya rumput saja dan tidak ada padi yang bisa kita panen.”

“Itulah Din. Kadang kita mementingkan materi tapi berharap akhirat”

Udin termenung meresapi dialognya dengan pak Dhe. Untung ada pak Dhe yang mengingatkan dia secara tidak langsung. Padahal semua yang dikatakan pak Dhe, Udin sudah paham benar, tapi karena situasinya cocok, maka ucapan pak Dhe membuat Udin kembali terpekur. Dipegangnya tangan pak Dhe erat-erat, tapi tak ada kata yangkeluar dari mulutnya.

Belum sempat Udin menyampaikan ucapannya, ponselnya berbunyi dan dilihatnya nama pemanggil di layar ponselnya.

“Dari pak Samidi pak Dhe”, kata Udin sambil menekan tombol hijau di ponselnya.

“Salam lekum pak Samidi. Ada apa?”

“……………………”

“Gak ada ponsel ketinggalan disini pak”, berkerut dahi Udin ketika menjawab telepon dahi Udin. Sesekali terlihat udin menghela nafas, di lain saat terlihat Udin seperti ingin marah, tapi pada akhir pembicaraan telepon, terlihat Udin malah tersenyum meski agak kecut.

“Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan?”, ucap Udin begitu selesai bertelpon dengan Pak Samidi.

Kembali Udin menggenggam erat tangan Pak Dhe, sambil berkata, “benar kata pak Dhe. Aku kurang bersyukur dan demikian juga pak Samidi. Baru saja dia telepon kalau ponsel barunya hilang, padahal itu adalah ponsel termahal saat ini dan dibelinya dengan uang bonus yang tidak disyukurinya”

“Maha benar Allah dalam segala firmanNya”, lirih pak Dhe berucap sambil membalas jabat erat Udin.

“Pak Dhe aku jadi ingat nasehat pak Anton”

“Apa itu?”

“Jangan pernah kecewa dengan sebuah pemberian Allah karena kita tidak pernah tahu mana yang paling baik bagi kita. Yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita, jadi jangan pernah kecewa, apalagi sampai Kecewa berat !”

“Hahahaha……”, berdua mereka menuju mushola. Suara adzan memanggil mereka untuk berdiskusi dengan Tuhan mereka.

masjid+++

Gambar dimodifikasi dari Clipart Microsoft