Aku Cinta Indonesia, aku cinta stasiun Tugu

aku cinta indonesia

aku cinta indonesia

Di kursi Kereta Api Taksaka sarungnya ada tulisan “Gunakan Produk Indonesia Mulai Dari Kita”.

Aku jadi berhitung juga. Seluruh barang yang ada di badanku ini apakah semuanya 100 persen buatan Indonesia atau hanya sebagian saja kandungan lokalnya.

Kalau Anda?

Apakah juga 100 persen buatan Indonesia atau malah 100 persen non Indonesia?

Keinginan adalah sumber penderitaan

Tak ada uang abang ditendang katanya, hal ini membuat uang jadi suatu hal yang merajai hidup manusia pada umumnya.

Keinginan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya menimbilkan keserakahan yang tak kenal puas.

Benar kata Iwan Fals, keinginan memang sumber penderitaan.

(Gambar dari internet)

+++

Seperti Matahari – Iwan Fals

Keinginan adalah sumber penderitaan

Tempatnya didalam pikiran

Tujuan bukan utama

Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia

Harta dunia kendaraannya

Bahan bakarnya budi pekerti

Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat

Karena ingin sumber derita

Harta dunia jadi penggoda

Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci

Memberi itu terangkan hati

Seperti matahari

Yang menyinari bumi

Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat

Karena ingin sumber derita

Harta dunia jadi penggoda

Membuat miskin jiwa kita

Keinginan adalah sumber penderitaan

Andi tak paham Bola, Nurdin yang paham

Sejak era PSSI tahun 2003 (?) memang hanya Nurdin Halid yang dianggap (atau menganggap dirinya) paling paham sepak bola. Jadi syah-syah saja kalau kemudian Nurdin Halid menganggap Andi Malarangeng tidak memahami sepak bola, bahkan Nurdin telah memecahkan beberapa rekor fantastis, misalnya memimpin PSSI dari balik tirai penjara.


Bukankah ini sebuah pengorbanan plus pengabdian yang luar biasa dari seorang Nurdin Halid?
Jadi bagi penggemar Nurdin Halid, tentu sangat tidak masuk akal tokoh yang mereka cintai ini harus menerima caci maki dari para penggemar sepak bola Indonesia.

Kalaulah PSSI tidak berprestasi semasa kepemimpinan Nurdin Halid, maka bukankah itu urusan para pemain bukan urusan para petinggi PSSI? Begitu kira-kira anggapan para pendukung setia Nurdin Halid.
Ketidak pahaman Andi Malarangeng telah membuat Nurdin dan para pengikutnya berang. Ancamanpun ditebar, “Andi seharusnya netral, dan kalau sudah seperti ini, maka bisa diperkarakan ke meja pengadilan”

Lalu, apakah Andi Malarangeng melunak dengan ancaman ini?

Tentu tidak, alumnus SMA Delayota Jogja ini tetap maju ke depan dengan segala risikonya. Tidak masalah kalau PSSI terpaksa dibekukan untuk menjadikan PSSI yang lebih baik.


Dukungan yang terus mengalir dari masyarakat bola Indonesia merupakan salah satu darah segar yang membuat Andi dan seluruh pecinta PSSI non Nurdin Halid terus tak kenal lelah melakukan demo dimana-mana.

Inilah demo yang melelahkan dan hasilnya juga masih perlu dipertanyakan. Bukannya mundur teratur, pendukung Nurdin justru makin solid membela Nurdin Halid, sehingga bisa jadi kalau pendukung Andi merosot semangatnya, akan membuat demo yang sudah dilakukan jadi tidak berarti apa-apa.

Benar apa yang dikatakan Nurdin Halid, “Jangan demo saya, demo saja yang menunjuk saya menjadi calon. Bisa saja saya mengundurkan diri sebagai calon”

Kalimat ini dimuat di berbagai media masa, seperti menunjukkan pada kita bahwa pesona Nurdin Halid sudah mengakar pada para pendukungnya yang aktif dan menentukan proses pemilihan pimpinan PSSI.
Kalau saja semua pengurus PSSI di masing-masing kota sepakat untuk tidak mendukung Nurdin Halid sebagai calon pimpinan PSSI, maka masalahnya sebenarnya sudah selesai.

Anda saja demo ini diganti dengan musyawarah yang penuh suasana kekeluargaan antara pendukung PSSI sarat prestasi dengan para pengurus PSSI di masing-masing kota, maka hasilnya bisa jadi berbeda.

Kecuali kalau PSSI di masing-masing kota tidak mau diajak bermusyawarah, maka kita yang serba tidak tahu dengan organisasi PSSI ini akan disuguhi oleh demo dari kawan-kawan pecinta PSSI sarat prestasi.

+++

sumber gambar : Fajar Makasar, Suara Merdeka,Kompas

Taxi (murah) ke Bandara

Pernah dengar biaya naik mobil taksi ke Bandara Soetta Cengkareng dari Cawang hanya berbiaya 8.000 rupiah?

Tempat mangkalnya tepat di bawah jembatan penyeberangan di dekat gedung BNN. Disini setiap pagi hari berkumpul beberapa mobil pribadi yang punya tujuan ke bandara. Mereka parkir dan menunggu penumpang sampai mobilnya penuh dan segera berangkat ke bandara Sukarno Hatta Cengkareng dengan biaya yang sangat murah, cukup 8.000 rupiah.

Parkir di bawah jembatan ini akan ada sampai akhirnya harus sepi kalau pas ada pak polisi yang bertugas di daerah itu.

Dari satu sisi, hal ini membuat taksi (resmi) beneran kehilangan rejeki dari penumpang yang akan ke bandara Soetta.

Dari sisi yang lain, ini adalah bentuk kerja sama pemilik mobil dengan penumpang, sehingga sama-sama untung. Mobil pribadi diisi oleh banyak orang, sehingga mengurangi kemacetan dan polusi.

Jadi anda setuju yang mana? Melarang pemilik mobil pribadi cari penumpang atau membiarkan sinergi antara penumpang dan pemilik mobil pribadi.

BNI Lounge

Ada banyak cara untuk masuk ke Lounge BNI yang ada di Bandara Sukarno Hatta. Bisa melalui pintu Lounge Mandiri atau BCA. Ruangan yang saling berhubungan di antara beberapa Lounge itu membuat pengunjung bisa memilih Lounge yang digemarinya.

Kenapa BNI Lounge menjadi pilihan menarik?

Ada beberapa komputer yang nongkrong dan siap dioperasikan di ruang itu, tentu ini merupakan sorga dunia bagi para penggemar internet.

Bagi yang membawa laptop sendiri, disediakan ruangan yang di salah satu sisinya bertaburan dengan titik api untuk sumber arus listrik para pemakai laptop yang kehabisan sumber daya. Sinyal wireless gratis juga cukup memadai untuk berselancar di dunia maya.

Suasana yang temaram juga membuat BNI Lounge lebih diminati, setidaknya bagiku.

Sambil menunggu pesawat yang datang kita bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat disini. Lebih baik datang terlalu cepat dan menghabiskan waktu produktif dengan kegiatan produktif di Lounge BNI daripada terlambat datang ke bandara.

BTW semu atetap terserah anda, mau datang ke bandara dengan penuh kecepatan di jalan atau datang duluan dan bisa relax di Lounge.