Purawisata Yogyakarta kini

Kata Purawisata sering disalah artikan oleh banyak orang. Bahkan ada yang memplesetkannya dengan kata saruwisata. Padahal Purawisata saat ini, setelah dipegang oleh Dewo PLO sudah berbeda jauh dengan periode sebelumnya.

Setelah bincang panjang dengan Dewo PLO, manajer program acara Purawisata, terjawablah sudah apa yang selama ini hanya berputar-putar dalam pikiranku saja.

“Begitu diberi tanggung jawab untuk memegang Purawisata, maka langsung kulakukan penyingkiran  narkoba di Purawisata”, begitu kata Dewo PLO, manajer Purawisata.

“Mengapa?”

“Banyak alasannya, Salah satunya adalah karena pesan dari sesorang petugas negara.Pesan itu sampai sekarang masih kuingat”

“Apa itu?”

“Mas Dewo kalau mau berkelahi dengan siapa saja selama masih di wilayah Yogyakarta, aku siap membantu, tapi kalau sudah urusan narkoba, mohon maaf, tolong diurusin sendiri”

“Oooo….”

“Padahal dia punya jalur untuk menyelesaikan masalah hukum, tapi kalau sudah urusan narkoba, maka ternyata tidak ada yang bisa menolong kita. Jadi sejak saat itu, mulailah episode tanpa narkoba di Purawisata”

Mas Dewo cerita kalau sejak diterapkannya aturan tanpa narkoba, maka pengunjung Purawisata langsung drop. Apalagi ada aturan untuk tidak boleh tampil sexy di panggung musik ndang-ndut, maka pengunjung benar-benar menurun.

Yang tetap terlihat  stabil adalah acara Jumat malam atau malam sabtu. Itulah acara rutin mengenang lagu-lagu Koes Plus, baik yang sesuai aslinya (100% mirip kaset) ataupun yang diaransemen sedikit berbeda.

Satu hal yang membuat Purawisata bangkit lagi adalah terjaminnya suasana kondusif setelah tidak ada narkoba di lokasi. Malam-malam di Purawisata yang tadinya rutin selalu ada kegiatan gelut (berantem), maka sejak larangan narkoba di lokasi diberlakukan, tidak ada lagi perkelahian antar penonton.

“Tadinya kondisi mereka kan sama-sama mabuk, sehingga perselisihan sedikit saja cepat meruncing dan cepat menaikkan tensi semangat berkelahi mereka”

Obrolan mengasyikan dengan Mas Dewo ini dikawani oleh segelas wedang uwuh yang hangat, sehingga membuat suasana obrolan makin nyaman.

Di belakang mas Dewo tampak anak buahnya sedang sibuk berdiskusi tentang panggung mini di resto samping Purawisata dengan pengisi acara.

“Jadi ada dua panggung disini. Yang satu biasanya untuk musik jenis unplug dan satunya jenis band.”

“Kenapa ndang ndut?”

“Hahahaha…musik ini luwes banget mas. Bisa dilarikan ke rock, campur sari ataupun aliran musik lain, tapi apapun kemasannya, isinya harus ndang ndut, karena pasar memang bilang begitu”

“Beda ya dengan malam Koes Plus”

“Ya betul. Sangat berbeda penontonnya”

“Berarti besok donk ada malam Koes Plus. Kan hari ini malam Jumat berarti besok digelar acara Koes Plus mania ya?”

“Karena besok adalah malam tahun baru, maka dengan terpaksa akan diisi oleh musik ndang ndut. Musik persaudaraan asal tanpa narkoba”.

12937243311891333315

Panggung ndang ndut Purawisata

Jadi kalau pas ke Yogyakarta, sempatkan mampir ke Purawisata bila anda ingin menikmati musik sambil bergoyang semau kita. Sehat didapat stress terbuang.

Akhirnya Indonesia Menang melawan Malaysia

Sepanjang jalan yang kulalui, lokasi nobar di Yogyakarta terlihat semarak. Baik itu nobar di warung kecil, kios kecil maupun nobar di lokasi terbuka, misalnya di depan kantor pos besar Yogyakarta. Masyarakat Yogya terlihat masih sangat antusias mendukung TimNas Garuda melawan Harimau dari Malaysia.

Nobar di km 0 Yogyakarta

Nobar di km 0 Yogyakarta

Jalan-jalan di sepanjang kota Yogyakarta terlihat sepi karena semua masyarakat terpusat pada beberapa titik nobar Timnas Indonesia melawan Malaysia. Saat adzan Isya berlangsung, saat permainan sudah dimulai, maka penonton masih terpaku di depan layar nobar masing-masing. Masjid yang kulewati terlihat sepi kekurangan jamaah.

Aku bersyukur dalam hati, karena makin sedikit hujatan yang muncul saat timnas kalah dari Malaysia. Semoga masyarakat Indonesia makin sadar bahwa ini hanya permainan bola biasa. Bola bukan agama di Indonesia, sehingga tidak perlu terlalu fanatik, bahkan di agamapun kita diajarkan untuk tidak fanatik buta.

Saat memasuki menit-menit awal babak kedua aku terlambat masuk ke ruang Nobar di warung Mie Sehati. Ternyata Indonesia sudah kecolongan satu gol. Alhamdulillah, pemain Indonesia tetap bersemangat untuk mengejar ketertinggalan gol ini.

Banyak pesan masuk ke kotak suratku yang menyayangkan kegagalan penalti sang Kapten Utina. Semua ini wajar saja. Kemungkinan gol yang sudah 99 persen ternyata sirna karena sepakan yang terlalu lemah dan mudah dibaca, tapi itulah seninya sepak bola.

Para pemain memang terlihat agak “down” ketika penalti itu gagal, seolah mereka mendapat firasat bahwa Indonesia sedang tidak beruntung malam ini. Apalagi ketika gol bersarang di gawang Markus, terlihat permainan sedikit kacau.

Ini juga menjadi topik menarik di sudut-sudut kampung yang kulewati setelah selesai pertandingan. Di beberapa obrolan yang kudengar mereka mengambil topik kegagalan Firman Utina mengeksekusi tendangan penalti dan kecolongan gol cantik dari pemain Malaysia.

Deraian tawa mereka terlihat tanpa emosi menghujat. Kelihatannya mereka sudah memahami bahwa inilah yang terbaik buat Timnas Garuda kita.

Permainan mulai berubah ketika sebuah gol bersarang ke gawang Malaysia. Terlihat Ibu negara yang bersorak sorai menyambut gol ini, sementara bos RI-1 terlihat masih JAIM (atau tegang?).

Beberapa kali Gonzales terlihat terperangkap offside dan sayangnya keterusan sampai selesai pertandingan Gonzales tidak menghasilkan satu golpun ke gawang Malaysia. Lalu apakah popularitas Gonzales luntur karena hal ini? Semoga saja tidak, karena memang begitulah Malaysia menekan habis pergerakan Gonzales, sementara penyerang Indonesia lainnya terlihat belum bisa mengambil manfaat dari marking yang dilakukan terhadap Gonzales.

Bepe yang masuk menggantikan Firman Utina mencoba berbuat banyak tetapi hasil akhir pertandingan sudah jelas. Indonesia menang melawan Malaysia dengan skor 2-1.

Kalau mau ditotal, maka Indonesia dua kali menang melawan Malaysia dan sekali kalah saat tandang ke Malaysia. Kedudukan juga 2-1 jadinya, yaitu dua kali menang (5-1 dan 2-1) dan satu kali kalah (0-3).

Mau ditotal lagi? Indonesia memasukkan 7 gol dan Malaysia memasukkan 5 gol alias 7-5, jadi masih menang Indonesia.

Hidup timnasku. Terbang Tinggi Garudaku. Kepakkan sayap emasmu dan terus memperbaiki diri untuk masuk piala dunia, entah kapan !:-).

Garuda di dadaku, Mie Sehati warungku

Garuda di dadaku, Mie Sehati warungku

Dalam Mighrab Cinta (manjakan istrimu)

Masih dalam suasana “mencoba” ikhlas akan kekalahan Tim Merah Putih “Garudaku”, aku akhirnya menemani istri untuk nonton film “Dalam Mighrab Cinta”. Inilah sebuah film yang harus kita tonton dengan bermodalkan otak kanan, jangan sekali-kali pakai otak kiri, dijamin akan mencak-mencak sendiri.

Film yang sarat dengan potret kehidupan manusia ini memang disampaikan dengan sangat lugas oleh sang sutradara. Kelihatannya batasan durasi tayang film yang terbatas membuat sutradara harus berpikir keras untuk mewujudkan isi buku DMC (Dalam Mighrab Cinta) ke layar lebar.

Akhirnya semuapun digampangkan saja, yang penting tujuan tercapai. Kalau dikumpulkan pasti akan banyak sekali pertanyaan sepele tentang jalan cerita ini, tetapi kalau kita ikut saja maunya sang sutradara, maka dijamin kita akan bisa menikmati film ini dengan nyaman dan tanpa cacat.

Kisah dimulai ketika seorang santri ketemu dengan adik pemimpin pondok pesantrennya. Adegan disini benar-benar tidak logika otak kiri, tetapi kalau kita pakai otak kanan, maka kita anggap saja itu adalah adegan untuk menunjukkan betapa baiknya hati seorang Syamsul.

Adegan kemudian makin sulit diterima otak kiri kita, misalnya saat Syamsul dituduh mencuri dompet di pesantren. Di novelnya mungkin adegan ini sangat logis, tetapi sutradara terlihat sulit menuangkannya dalam layar lebar, sehingga yang terjadi adalah sebuah pengadilan yang sangat tidak bisa diterima oleh otak kiri kita.

Jadi sebaiknya sejak dari awal sudah siap-siap untuk menanggalkan dulu logika berpikir otak kiri kita dan segera pasang otak kanan dengan kekuatan penuh.

Saat kita sudah memakai otak kanan untuk menonton film ini, maka semua adegan menjadi logis dan bisa dinikmati dengan penuh senyum. Kalau kita nonton berdua dengan pasangan hidup kita, demi  untuk menyenangkan hati pasangan kita, maka dijamin tanpa sadar air mata tahu-tahu sudah membasahi pipi kita.

Secara garis besar, film ini sebenarnya sangat baik menunjukkan potret kehidupan yang sangat realistis. Bukankah banyak sekali orang yang dipanggil ustadz tetapi sebenarnya dalam dirinya tidak ada sifat ustadz sama sekali.

Semua kejadian dalm film ini menjadi sangat manusiawi, karena para tokoh film ini digarap agar berakting sesuai dengan potret kehidupan manusia sehari-hari. Semua orang bisa salah dalam bertindak dan tugas kita adalah memaafkannya.

Seorang yang tidak pernah mencuri dan akhirnya dituduh mencuri, bisa saja akhirnya menjadi pencuri betul dan khusus untuk yang satu ini, maka film ini menceritakannya dengan sangat indah.

Kalau ada yang benar-benar kurang dalam film ini adalah akting dari adik Syamsul yang tidak terlihat karakternya demikian juga El Manik, ayah Syamsul terlihat main tidak dalam form terbaiknya (emangnya main bola ya?).

Zizi (Meyda Sefira) putri pemilik pesantren juga mainnya standard saja. Asmirandah seperti biasa main dengan baik karena kecantikannya dan wajah yang terlihat tanpa dosa. Intinya sebenarnya tidak ada pemain yang menonjol dalam film ini. Hanya kekuatan cerita saja yang membuat film ini jadi sangat menguras air mata.

Untung ending film ini standard saja, sehingga saat lampu menyala kembali air mataku sudah sempat kukeringkan dulu.

Buat para pasutri, sebaiknya tonton film ini agar kita mampu memahami dan menerima pasangan kita seutuhnya dalam kehidupan pribadi kita. Sesungguhnya suami istri adalah satu nyawa, sehingga dalam filosofi Jawa, istri adalah separuh nyawa suami.

Selamat menonton.

+++

Gambar diambil dari situs kapanlagi, facebook Film Dalam Mighrab Cinta dan Asmirandah.

Indonesia tidak kalah dari Malaysia

Dengan pola menyerang yang begitu bagus tentunya tidak layak Indonesia kalah dari Malaysia. Sepasang sayap yang rajin mengiris barisan pertahanan musuh dan mesin gol yang punya tendangan terarah, tentu kemenangan adalah harga mati bagi tim seperti ini.

Kalau akhirnya tim Indonesia harus rela kebobolan 3 gol tanpa balas, maka tentu bisa dimaklumi, Sepasang sayap kita begitu lamban, hanya sayap kiri yang masih terlihat berusaha untuk mengiris pertahanan musuh, selebihnya adalah umpan yang salah sasaran. Permainan yang mudah dibaca lawan dan pergerakan yang terasa begitu lamban dibanding lawan yang begitu rajin mengejar bola dimanapun berada.

Umpan-umpan yang dibiarkan lepas tanpa ada “pressing” pada pemain lawan membuat gol-gol begitu mudah masuk ke gawang Indonesia. Indonesia kalah bukan karena laser begitu kata Riedl di layar kaca dan aku mengamini pernyataan ini. Garuda kalah dari harimau karena tidak tampil seperti biasanya. Garuda bak burung yang sedang demam panggung, sementara itu harimau seperti sedang kelaparan karen apernah dinjak-injak oleh Garuda.

Aku suka membaca pesan pak Rawi yang masuk ke kotak suratku.

“Ya….. Indonesia tidak kalah dari malaysia, Indonesia hanya kemasukan bola lebih dulu sebanyak 3x. Masih ada sisa 1 pertandingan lagi.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi negara kita, negara Republik Indonesia.

Sekarang saatnya menunjukkan pada dunia bahwa kita mampu….

Gangguan laser, permainan kasar, media yang sok eksklusive, dikotori oleh para politisi yang sok baik dan berbagai macam temen-temennya itu akan selalu muncul pada sebuah tim bintang yang sedang bersinar

Semakin tinggi garuda terbang maka angin akan semakin kencang

Para pemain cukup bermodal lari yang kencang sambil nendang bola ke gawang lawan maka sang Garuda pasti bisa membawa bendera kebanggaan

Urusan doa jangan dipikirin, sebab kami semua, masyarakat Indonesia yang haus akan kemenangan sudah secara otomatis mendoakan kepada timnas agar bisa mendapatkan gelar juara.

Tidak perlu doa khusus yang di label-i dengan atas nama agama yang hanya dilakukan oleh beberapa gelintir orang, doa ikhlas masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 240 juta jiwa akan lebih POWERFUL

Ini hanya sebuah permainan, ada yang menang dan ada yang kalah tetapi sang Garuda lebih memilih kemenangan sambil mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan

Habis gelap terbitlah terang…..

Salam sukses dunia akherat,
Rawi Wahyudiono….”

Benar pak Rawi, Indonesia tidak kalah dari Malaysia. Indonesia hanya kemasukan 3 gol dari Malaysia saat main bola di AFF. Itu saja.

Garuda masih ada di dadaku dan aku tetap cinta PSSI. Masa depan masih ada di depan kita. Tetap semangat!

Ayuk tendang terus

Ayuk tendang terus

Jangan takut jatuh, serang terus

Jangan takut jatuh, serang terus

tak masalah gak ada lapangan rumput, tetap semangat

tak masalah gak ada lapangan rumput, tetap semangat

Selamat berjaya buat Timnas Malaysia dan selamat bekerja Garudaku untuk kejuaraan yang lain. Salam sehati.

Selamat Hari Ibu istriku

Akhirnya aku sempat memberi ucapan “Selamat Hari Ibu” untuk istriku tercinta. Ada senyum di jawaban “terima kasih” dari istriku. Dunia ini jadi terasa indah banget. Lebih indah dari hari-hari yang biasa kulalui.

Ternyata memberi ucapan selamat hari Ibu pada istri sendiri sangat berbeda dengan saat memberi ucapan selamat hari Ibu pada ibu tercinta. Ada cinta dan sayang di saat ucapan itu meluncur dari bibir kita dan ada hati yang bersinar terang saat kita mendapat energi positip dari istri ketika menerima ucapan selamat dari kita.

Alangkah tidak nyamannya kalau istri kita ternyata tidak menyambut ucapan kita atau bahkan tidak mau mendengar ucapan kita. Semoga hal itu tidak terjadi pada kita. Amin.

Mulai tahun ini aku memang tidak lagi bisa memberi ucapan selamat hari Ibu pada Ibunda tercinta yang sudah menyusul Ayahnda tercinta menghadap padaNya. Ada rasa sesal di hati, tapi begitulah kehidupan di dunia ini. Pasti ada saat orang yang kita kasihi meninggalkan kita dan ada saat kita yang meninggalkan mereka.

Mumpung masih bisa menulis, mumpung masih bisa berucap, mumpung masih bisa bertindak, mari kita agungkan para ibu yang berada di sekitar kita. Ibu kita sendiri, ibu dari anak-anak kita maupun para ibu yang selalu penuh kasih pada anak-anak mereka.

Lagu Iwan Fals selalu pas menggambarkan suasana hari ibu ini.

+++

Ibu

oleh: Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

+++

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2010.

+++

Mengenang saat kepergian Ibu