Setiap bepergian keluar kota, maka bawaan wajibku adalah ponsel, laptop, camera (pocket) kompas dan jam. Masalah yang timbul biasanya adalah masalah colokan listrik yang selalu kurang di kamar hotel.
Pilih saja salah satu di bawah ini ketika kita masuk di sebuah kamar hotel yang biasa-biasa saja.
1. Nonton TV
2. Charge ponsel
3. Charge laptop
4. Charge camera (pocket)
Saat kita mau mengisi batere ponsel yang drop setelah seharian dipakai, maka TV harus kita matikan, agar kita punya tempat untuk colok adaptor ponsel.
Hal seperti itu tidak akan terjadi kalau kita nginap di Swiss BelHotel Medan. Aku belum check di kota lain, tetapi mungkin pelayanan mereka sama di semua kota.
Sederet tempat untuk colokan listrik terlihat berjajar rapi di meja sudut kamar. Ada juga beberapa colokan listrik tunggal di dekat kamar tidur dan di beberapa tempat lain.
Bagiku inilah hotel yang berubah menjadi surga. Kepuasan ini masih ditambah lagi akses internet yang kencang. Sungguh Luar biasa memang hotel ini (bagiku).
Tempat tidurnya juga nyaman.
Pengatur suhu juga sangat “smart”.
Kamar mandinya adalah kamar mandi favoritku. Sebagai supporter greenpeace aku selalu suka dengan kamar mandi model shower dan bukan model bak mandi. Tidak banyak air yang terbuang kalau kita mandi memakai shower.
Meski demikian, bak mandi juga disediakan di hotel ini.
Alamak? Beratku nambah 2 kg? Dari 74 menjadi 76? Jangan-jangan salah nih timbangan yang ada di kamar mandi?
Hari ini kembali aku menikmati tontonan gratis di cabin pesawat Garuda ke Medan. Sebuah cerita yang lengkap cita rasanya. Di awal film kita sudah diajak tersenyum menertawakan sang tokoh utama yang begitu “berpengaruh” terhadap kehiodupan kampus.
Begitu “berpengaruhnya” Abhay, sehingga primadona kampus Alisha langsung bertekuk lutut pada lelaki paling tampan di kampus itu.
Sayangnya semua itu hanya mimpi di siang bolong. Semua yang diceritakan di awal film adalah mimpi dari Abhay saja, selebihnya dia adalah kutu buku yang sangat ahli dalam bidang komputer dan sangat mengidolakan primadona kampus Alisha.
Apapun yang dikerjakan oleh Alisha selalu tak pernah luput dari mata Abhay. Sampai suatu ketika sepulang dari mabuk bersama teman-temannya, Alisha mencoba meniti bibir jembatan dan akhirnya jatuh serta tenggelam di air sungai yang cukup dalam itu.
Bak super hero yang tak kenal takut, Abhay langsung saja melompat ke air dan menolong Alisha. Abhay terlihat ragu-ragu ketika akan melakukan bantuan pernafasan pada Alisha yang pingsan. Sebelum Abhay memutuskan untuk bertindak, Alisha terbangun dari pingsan dan mulai batuk-batuk. Teman-temannya langsung membawa lari Alisha ke kamarnya dan meninggalkan Abhay sendirian.
Tentu Abhay seperti mendapat durian runtuh ketika berhasil menyentuh kulit ALisha bahkan akhirnya membopong Alisha ke pinggir sungai.
Senyum makin mengembang ketika Abhay menyadari bahwa dia sudah menolong pujaan hatinya dan besok adalah kesempatan emas untuk datang ke rumah Alisha membawa setumpuk bunga cinta.
Dengan hati berbunga-bunga Abhay menuju asrama ALisha dan menemukan teman-teman Alisha yang sedang berada di depan pintu. Mereka tidak berani masuk karena di dalam Alisha sedang bertengkar hebat dengan ayahnya.
Akhirnya Abhay dipersilahkan pergi oleh teman-teman Alisha. Saat itulah hati Abhay benar-benar remuk. Dia seperti disadarkan bahwa cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu sudah saatnya diakhiri. Dengan gontai Abhay melangkah pulang dan inilah kisah yang kemudian membuat Abhay harus menyerah pada akhir yang tidak bahagia.
“Tidak selalu kisah cinta berakhir dengan bahagia”
Kisah kemudian melompat ke tujuh tahun setelah peristiwa itu. Dikisahkan Abhay tinggal berdua dengan bapaknya dan melakukan kegiatan rutin yang membuat kita akan tersenyum-senyum menyaksikannya.
Adegan ini serupa tidak sama dengan adegan NagaBonar (jadi) dua, tapi dengan kelucuan yang berbeda tentu saja.
Cerita makin seru ketika Abhay bertemu lagi dengan pujaan hatinya yang sudah tujuh tahun tidak pernah dilihatnya. Meskipun kekasih hatinya sudah mempunyai anak dan baru saja bercerai dengan suaminya, tetap saja Abhay tidak bisa membohongi hatinya.
Kisah selanjutnya cukup mudah ditebak, tetapi tetap asyik untuk diikuti. Nyanyian maupun ucapan kalimat-kalimat bijak terus bertebaran di sepanjang cerita berbaur dengan kelucuan di beberapa spot.
Menjelang akhir cerita, kelucuan mulai berkurang dan dimasukkan unsur drama yang penuh dengan linangan air mata. Itulah kisah cinta tak berbalas dari Abhay yang akhirnya terbalas juga di akhir cerita.
“Ternyata kisah cinta ini akhirnya berakhir dengan happy ending”
Penasaran?
Silahkan tonton filmnya (dimana ya mainnya?). Dijamin tidak kecewa, apalagi kalau anda penggemar film-film India. Lagunya enak didengar meskipun baru sekali ini didengar.
+++
Foto-foto diambil dari facebook Pyaar Imposible dan situ sresmi film Pyaar Imposible. Silahkan search sendiri kalau ingin gambar yang lain.
Alisha memang diperankan oleh artis sexy yang selalu mengumbar tubuh dengan santainya.
Bila Rambo digambarkan sebagai ahli strategi dan siap bertempur di medan perang yang seperti apapun, maka Amir digambarkan sebagai lelaki kecil yang santun namun penuh perhitungan dan kepasrahan pada kekuasaan Tuhan.
Bagi mereka yang baru saja nonton film KHA Dahlan (Sang Pencerah), mungkin agak bingung dengan tokoh Amir yang diperankan oleh Lukman Sardi sang pemeran KHA Dahlan.
Dua-duanya pejuang Indonesia yang religius. KHA Dahlan lebih ke arah pendidikan dan Amir lebih ke arah film action ala Rambo. Bagaimana tidak, meskipun Amir bediri sendirian di depan gardu dan menembaki musuh yang berlindung di balik benteng perlindungan tetapi Amir tidak lecet sedikitpun dan bahkan bisa menembak mereka yang bersembunyi dibalik barikade pelindung.
sumber : http://www.vibizlife.com
Nonton film Indonesia memang selalu ada cacatnya, tetapi kalau dibanding dengan film pocong sexy atau semacamnya, jelas misi dari film ini lebih mendidik dan lebih bisa dinikmati jalan ceritanya. Bandingkan dengan film hantu atau semacamnya yang tidak mementingkan jalan cerita tetapi lebih mementingkan kecantikan pemainnya dan keseraman adegannya.
Adegan perang di film ini cukup menghibur dan demikian juga adegan peledakan dimana-mana yang ditampilkan dengan sangat apik. Serasa nonton film ala Rambo atau semacamnya. Kualitas gambar dan suara sangat bagus.
Sound system gedung yang memakai dolby system juga mendukung banyak adegan perang yang bertebaran di sepanjang film. Tidak perlu lagi nonton film perang dari Hollywood cukup sudah menonton film ini sudah sama rasanya.
Dari sisi teknis, film Indonesia sekarang memang tidak berbeda jauh dengan film luar negeri. Perkelahian dalam film Indonesia sudah bisa bersaing dengan perkelahian ala film mandarin demikian juga adegan perang sudah bisa menyaingi film Hollywood.
Jalan cerita, tidak usah ditanya lagi. Banyak film Indonesia yang punya cerita yang membumi, sehingga pesannya lebih mudah sampai dibanding film luar negeri yang pesannya (mungkin) lebih bagus tetapi nuansanya sosialnya sangat berbeda.
Film Sang Pencerah jelas sangat kuat di sisi cerita maupun pengadegannya, bahkan seorang Ketua Umum Muhammadiyah sampai nonton 6x dan masih ingin nonton lagi.
Film Darah Garuda ini tampil dengan warna lain dibanding film Sang Pencerah. Sisi action digarap lebih menonjol dan pemandangan alam Indonesia yang asri terlihat ditampilkan dalam beberapa scene.
Ceritanya sendiri berkisar pada kepahlawanan beberapa prajurit yang sebenarnya tidak semua ingin jadi pahlawan. Mereka menjadi pahlawan karena “kecelakaan” bukan karena berniat menjadi pahlawan. Hanya Amir dan Dayan yang terlihat memang dilahirkan sebagai sosok pahlawan.
Dayan rela disksa mati-matian demi menjaga rahasia misinya dan tidak pernah takut akan maut yang siap menjemputnya karena sikap kepala batunya.
Nasib membuat Dayan harus jatuh bangun demi membela negara dan semua itu dijalaninya dengan semangat pantang menyerah. Andai semua pahlawan negara seperti Dayan, maka negara kita mungkin sudah merdeka sebelum tahun 1945, begitu komentar seorang temanku, karena sangat terkesan akan semangat para pejuang yang tanpa pamrih itu.
Tomas (Donny Alamsyah) pemuda non Muslim yang sempat dicurigai sebagai penghianat ternyata malah mampu membalikkan suasana. Tomas sukses meledakkan markas besar musuh yang sedang tidak dijaga banyak tentara. Adegan ini terlihat mirip adegan Rambo saat berhasil meledakkan gudang senjata musuh.
Darius yang memerankan Marius terlihat sebagai anak orang kaya yang sebenarnya tidak suka perang tetapi kondisi membuatnya ikut berperang. Yang ada dalam pikiran Darius hanyalah makan, mabok dan lari dari medan perang.
Sutradara telah merangkai berbagai karakter itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan untuk ini sutradara patut diacungi jempol.
Meski secara keseluruhan film ini masih dibawah Sang Pencerah, tetapi film ini tetap masuk dalam deretan film layak tonton. Aku cinta film Indonesia dan aku tonton film Indonesia yang bermutu. Inilah salah satu film yang bermutu dari Indonesia.
Bagi mereka yang ingin mengenal Islam dan bedanya dengan Muhammadiyah, maka film ini sangat pantas untuk ditonton. Bagaimana sekelompok orang Islam bisa bertindak brutal dan bagaimana sekelompok lainnya bisa bertindak penuh budi pekerti, semuanya ada di film ini.
Muhammdiyah bukanlah organisasi Islam, tapi adalah organisasi pendidikan. Bukan tempat untuk mencari hidup tetapi tempat untuk berkumpulnya beberapa orang dalam menyeru kepada kebenaran melalui tindakan nyata yaitu melalui dunia penidikan dan kegiatan sosial.
Hormat Ala Tapak Suci
Bagi para pendekar Tapak Suci tentu sangat memahami hal ini karena setiap mereka memberi salam maka posisi kedua tangannya adalah perlambang dari amar makruf nahi munkar.
Berdirinya beberapa panti asuhan Muhammadiyah adalah berkat pelajaran tentang Surat Al Ma’un oleh KHA Dahlan. Surat dalam AL Quran tidak hanya untuk dibaca tapi untuk dipraktekkan dan praktek nyata untuk surat Al Ma’un adalah dengan menyantuni anak yatim.
Klenik dalam Islam jaman dulu
Film ini benar-benar menggambarkan perjuangan KHA Dahlan sejak dia masih menjadi Darwis sampai dia berubah nama menjadi Haji Dahlan. Darwis muda sudah gerah dengan ritual Islam yang sering melenceng dari Quran dan Hadits, sehingga ketika ilmunya makin mencukupi maka mulailah dia bergerak untuk menunjukkan islam yang sesuai ijtihadnya.
Banyak sekali kalimat-kalimat khas Muhammadiyah yang muncul dalam dialog-dialog yang begitu fasih dibawakan oleh para aktor yang semuanya bermain dengan apik. Semua tokoh telah memainkan peran masing-masing dengan benar, sehingga film terasa mengalir begitu cepat dan tahu-tahu sudah hampir dua jam kita terpaku menyaksikan film ini.
Pemunculan suasana kota Jogyakarta di jaman dulu juga lumayan digarap dengan apik, misalnya beberapa adegan di sekitar tugu Jogya maupun di stasiun Lempuyangan. Meskipun terlihat ada rekayasa disitu, tetapi sangat natural sehingga membuat para penonton merasa terbawa ke Jogyakarta beberapa tahun lampau.
Bagi penonton dari Jogyakarta tentu ada yang merasa aneh ketika perjalanan dari rumah Dahlan menuju ke Lempuyangan harus melalui Tugu, tapi secara keseluruhan adegan ini tidak mempengaruhi jalan cerita. Keinginan untuk selalu menampilkan tugu tahun dulu begitu kuat sehingga sutradara selalu mencoba menampilkan tugu dalam beberapa adegannya.
Adegan terakhir terasa sangat halus disampaikan oleh sang sutradara. Itulah saat Dahlan mulai menyadari bahwa bersikap keras saja tidak cukup, perlu adanya win-win solution tetapi dengan tetap menjaga keyakinan yang dipegang teguh. Menghargai pendapat orang lain adalah sesuatu yang harus tetap dipertahankan disamping memegang teguh keyakinan yang ada di dalam hati kita masing-masing.
Sesama muslim adalah bersaudara dan tidak layak untuk saling bermusuhan.
Lukman Sardi bermain sangat apik dalam film ini. Dia bisa menggambarkan betapa rapuhnya Dahlan ketika begitu banyak hujatan menimpa dirinya tetapi dia juga bisa menunjukkan betapa tegarnya hatinya terhadap keyakinan yang dipegangnya.
Nyi Dahlan juga terlihat begitu lugu dan patuh dengan suami.
“Saya tidak tahu lagi siapa yang benar. Apakah suamiku atau orang lain, tapi aku wajib menurut pada suamiku dan itulah yang kuyakini kebenarannya”
Kalimat indah ini meluncur dengan lembut dari mulut Nyi Dahlan. Sungguh luar biasa indah kalimat ini. Kalimat yang sangat sederhana tapi sangat sulit dicari orang yang bisa melakukan hal seperti Nyi Dahlan di jaman ini.
Itu juga yang mungkin membuat kumpulan Ibu-Ibu Aisyiah terlihat sangat bangga kala mendampingi para anggota Muhammadiyah melakukan kegiatan apa saja. Mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah demi beribadah padaNya.
Jika penasaran dengan film ini dan ingin melihat potongan filmnya silakan lihat di bawah ini.
Melalui film ini kita bisa melihat betapa sulitnya Dahlan ketika mencoba merubah arah kiblat Masjid Agung Kauman, bahkan Dahlan harus rela suraunya dirobohkan oleh mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya.
Dahlan memang seorang yang sanghat kontroversial di jamannya. Dia adalah Kiai Kafir yang jika didekati bisa menjadi ketularan gila. bagaimana tidak, ketika dia ditanya tentang agama, maka Dahlan menajwabnya dengan bermain musik.
“Agama adalah sesuatu yang menyenangkan menentramkan bagi yang memeluknya. Akan tetapi bila kita tidak menguasai ilmu agama, maka agama bisa menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi kita dan bagi orang lain di sekitar kita”
Sebuah kalimat yang kembali membuat kita terangguk-angguk. Bahkan Ketua Muhammadiyah saat ini (Din S) telah menonton film ini sampai 6 kali.
“Oleh karena itu siapa nanti pejabat, tokoh lain yang ingin nonton dan memerlukan keikutsertaan ketua umum Muhammadiyah, saya menyediakan waktu. Apalagi nontonnya gratis. Dan walaupun sudah enam kali nonton, saya tidak merasa bosan. Makin lama nonton, makin asyik. Kalau tidak percaya, tontonlah beberapa kali lagi,” kata Din seperti dimuat dalam tribun news.
+++
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung”
Penggemar Transporter pasti sampai saat ini masih ingin menyaksikan film terbaru Statham. Sopir mobil yang gerakan bertarungnya sangat cepat, akurat dan langsung mematikan. Pukulan maupun tendangannya selalu seperti betulan padahal kita yakin kalau semua itu hanyalah rekayasa film saja. Meskipun Statham petarung hebat tapi tetap ada unsur dilebih-lebihkan saat dia melakukan adegan pertarungan dalam film.
Seperti Statham, maka Jet Li, pria kecil dari Asia juga sanggup mengalahkan puluhan orang dengan senjata seadanya. Kadang bahkan cukup dengan tangan kososng atau cukup dengan payung saja.
Kedua pria jagoan ini bersahabat dengan Stallone, Rambo yang tak pernah terkalahkan oleh siapapun. Tentu kekuatan mereka bertiga sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan musuh yang sekuat apapun. Belum lagi ditambah beberapa nama beken lainnya, seperti Rourke, Crews dan Couture. Ada juga nama Dolph Lundgreen (pasangan main Ayu Ashari dalam no Mercy) yang begitu jangkung serta perkasa.
Nama lain sebagai pemanis film adalah Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger.
Semua jagoan itu ngumpul dalam sebuah film yang sangat mahal biaya pembuatannya “The Expendables”. Biaya film ini membengkak terus karena semua aktor yang masuk di film ini adalah aktor laris yang mahal. Mungkin bayaran untuk Mr Church (Bruce Willis) dan Arnold Schwarzenegger sudah cukup untuk membuat lidah berdecak kagum, padahal mereka main hanya beberapa menit saja. Ini mirip dengan peran Marlond Brando dalam film Superman.
Waktu itu untuk tampil 10 menit Marlon Brando (rumornya) mendapat bayaran 4 juta dollar (kurs saat itu 1 USD masih sekitar 2 ribu rupiah). Tentunya untuk ukuran Bruce Willis dan Arlnold bayarannya bisa lebih banyak atau minimal setara dengan bayaran Marlon Brando (silahkan search sendiri bayaran mereka untuk main di film ini).
Seperti film action lainnya, maka kekerasan yang cenderung brutal diumbar di film ini. Hanya ada sedikit perkelahian yang berseni dari Ying Yang (Jet Li), selebihnya adalah perkelahian brutal dan sadis. Tangan putus, kepala lepas atau leher patah menjadi ramuan standard film ini. Jadi kalau ingin nonton film action yang lebih santun mungkin cukup nonton film KILLERS-nya Ashton.
Bagi penggemar film action, pasti akan sangat puas menyaksikan film ini. Semua jagoan ngumpul dan semuanya mendapat porsi yang cukup untuk memamerkan kelebihannya.
Film ini sangat tidak disarankan untuk mereka yang tidak suka melihat darah berceceran, atau mereka yang ingin melihat film action berkelas, misalnya Red Cliff, Rambo 1 atau Die Hard 4. Film ini benar-benar memuaskan bagi mereka yang suka melihat adegan adu jotos sadis, senapan mesin yang berpeluru “jumbo”. Sekali saja “Omaya kaboom” meledak, maka sebuah rumah type 36 bisa hancur berantakan.
Senapan kokang versi Jumbo saja sudah mengerikan, di film ini CREWS memakai senapan mesin yang berpeluru jumbo yang dia beri nama “Omaya kaboom”, jadi bisa dibayangkan sendiri seberapa kekuatan ledaknya.
Seperti biasa, film ini punya alur yang mudah ditebak. Tentara bayaran yang punya hati, lebih mementingkan setia kawan daripada uang. Memasang artis cewek sebagai pemanis dan bumbu, yang sebenarnya tidak perlu. Tanpa pemain cewek itu, mungkin cerita ini bisa dilarikan ke arah komedi ala Jet Li atau kemanusiaan ala Rambo 1 (Rambo 2 dst sudah lebih ke film aksi yang jauh dari sisi kemanusiaan).
Rocky 1 adalah contoh film action yang sangat menyentuh. Seperti Rambo 1, maka Stallone telah berhasil memerankan sosok yang humanis dan tetap sangar. Di film ini sosk itu sepertinya ingin ditampilkan lagi, tapi sosok Stallone sebagai ahli adu jotos yang lebih muncul.
Riasan Rourke yang mirip lawan Iron Man 2, rasanya kurang pas. Sebagai tukang tato, mungkin akan lebih enak kalau didandani Gipsy model apa saja, asal bukan mirip Ivan Vanko lawan Iron Man 2.
Selanjutnya terserah anda. Mau lihat film action yang sadis dan penuh adu jotos serta ledakan super, inilah filmnya. Takut akan adegan sadis? Jangan sekali-kali nonton film ini. Mungkin lebih baik nonton SALT yang tidak terlalu sadis atau cukup KILLERS.