SABDA ALAM : Wouw keren….

Kamis menjelang Maghrib akhirnya sampai juga di kota Garut. Sebelumnya asyik mengikuti petunjuk jalan di sebelah kanan jalan,”Sumber Air Panas 20 km lagi!” sampai akhirnya terbaca “Cipanas 3 km lagi”.

Yang kutuju adalah Kolam Renang “Sabda Alam”, sesuai dengan arahan dari pak Firman dalam tulisannya di blog Cimart. Dalam tulisannya di Cimart, pak Firman memasang iklan seperti ini :

“……Yang bikin Mangkin Asyik,…. kita BEBAS bawa masuk makanan…. nasi timbel, nasi uduk, bakso, soto, kupat tahu, mie sehat1, mie kcb, cireng, citoys, ayam bakar pondok rasa, jeniper, beruang coklat, asinan bogor, sop conro…. semua silahkan masuk…..”

Sebuah tawaran yang menarik dibandingkan pergi ke kolam renang lain yang mahal dan tidak boleh bawa makanan dari luar.

Ternyata meskipun tempatnya mudah dicari tapi sempat salah masuk juga, soalnya hampir semua tempat di lokasi wisata ini memakai kata “ALAM”. Ada Tirta Alam, Banyu Alam dll, sehingga hampir saja salah masuk lokasi. Untung begitu masuk ke lokasi yang salah langsung terbaca, jadinya belum sempat beli tiket masuknya.

Di SABDA ALAM terdapat sebuah hotel juga, sayangnya tidak terpikirkan untuk nginap, sehingga lupa nanya berapa room rate-nya. Kalau di Tirta Alam sih katanya sekitar 200-300 ribu/malam, mungkin di Sabda Alam juga angkanya tidak jauh-jauh amat.

Penjaga parkirnya agak heran melihat kita yang datang saat menjelang maghrib.

“Mau parkir pak?”

“Iya, sampai jam berapa bukanya?”

“Jam delapan malam pak”

“Oke…”, kamipun bayar tiga ribu rupiah untuk parkir mobil dan langsung parkir pas di depan pintu kolam renang.

Tiket hari biasa 25 ribu dan hari Sabtu-Minggu 35 ribu. Anak kecil di bawah 80 cm dianggap gratis, tapi istriku yang hanya numpang ke toilet tetap bayar 25 ribu juga.

Ini memang ajang pembuktian iklan pak Firman di Cimart dan sebagai ujud sayangku pada Lilo yang pingin banget mandi di kolam berair hangat.

Waktu di Berastagi Medan, kita pernah juga mandi di kolam air hangat, tapi airnya adalah hasil dari pemanasan buatan, sedangkan di kolam air hangat Sabda Alam ini airnya memang asli hangat dari sumbernya, jadi rasanya lebih “natural”.

Karena tidak bawa baju renang, maka LiLo beli baju kaos setelan dengan celana seharga 40 ribu rupiah dan langsung dipakai untuk renang. Ternyata ada yang tidak etrtib juga di kolam renang ini. Hampir semua ibu-ibu dan juga para ABG cewek dengan enaknya memakai kamar mandi untuk laki-laki tanpa rasa sungkan sedikitpun.

“Bu, kamar mandi putri di sebelah sana”, begitu kata istriku mencoba mengingatkan, tapi mereka cuek saja. Demikian juga ketika aku antri di depan kamar mandi laki-laki, maka seorang cewek cantik langsung masuk begitu pintu kamar mandi terbuka dan muncul cewek cantik lain yang rupanya memang kawannya.

“Waduh, cantik-cantik kok nggak tahu aturan ya?”, begitu sindirku. Sayang sindiran itu hanya muncul dalam hati saja.

Akhirnya acara ganti baju Lilo terpaksa dilakukan dengan super cepat dan memakai pelindung badanku saja.

Rasanya Lilo belum puas mandi di kolam itu, tapi bagiku sudah cukup waktu untuk mandi. Maghrib sudah menjelang dan saatnya ngisi bensin sambil sholat maghrib.

Selamat tinggal Sabda Alam, semoga bertemu lagi.

Terima kasih juga buat Bunda Okky, Blogger Garut yang menemani perjalanan ke Garut ini. Sebuah sambutan yang sangat ramah dari Blogger Garut terhadap Blogger Cikarang. Semoga bisa membalasnya di lain waktu.

Terima kasih juga buat teman-teman BeBlog yang mengenalkan aku dengan Bunda Okky [mbak Ajeng dan Mas Dhodie].

Aku Cinta Bekasi

“Pemanasan Global bukan isu lagi”, begitu salah satu penggalan kalimat yang selalu kudengar di Radio Dakta setiap aku mengarungi perjalanan dari Bekasi ke Jakarta. Akupun jadi terbakar oleh semangat hijau ini.

“Tanamlah pohon, hijaukan semua tempat yang bisa dihijaukan!”

Begitu semangatnya penghijauan di keluargaku, sampai-sampai saat ada kegiatan demo masak mie di rumahkupun temanya membuat Mie “Hijau”, sebuah warna yang identik dengan kelestarian alam. Mungkin karena anak-anakku juga sangat mendukung gerakan ramah lingkungan, maka “mindset” keluargaku juga sudah berubah sejak pemanasan global sudah bukan isu lagi.

Pemanasan global memang sudah terjadi, akupun terus setia dengan posisiku sebagai supporter Greenpeace, meskipun kita semua tahu, bahwa Greenpeace masih kurang populer dan belum memberikan “outcome” yang signifikan. Apapun gerakan yang membuat bumi makin cantik, pasti akan didukung oleh segenap keluargaku.

Saat ini Greenpeace masih sangat perlu dukungan semua pihak, semua tingkatan dan semua komponen bangsa agar gaung Greenpeace terus menggema dan selalu penuh energi. Kita mulai gaungkan kepedulian kita pada kegiatan yang ramah lingkungan, syukur-syukur kita mampu memberikan kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan.

Mari kita mulai dari yang kecil-kecil saja, mulai dari lingkungan kita sendiri dan tentu saja kita mulai sejak sekarang.

Itulah yang kemudian kulakukan, bekerja sama dengan seluruh teman-teman yang ada di kompleks, kita tanam pohon di antara pohon-pohon yang sudah ditanam beberapa tahun lalu. Setiap kepala keluarga wajib merawat tanaman yang ada di depan halamannya masing-masing, begitu persyaratan yang kita berikan pada mereka yang mau berpartisipasi dengan melakukan kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan.

Pohon Mangga ini ditanam sembilan bulan lalu dan sekarang sudah terlihat senang dengan lingkungannya yang baru. Dia penuh tunas dan siap untuk menjadi peneduh dan bantuan nafas bagi bumi kita tercinta ini.

Dana penghijauan ini kita ambilkan dari dana kas warga yang selalu ikhlas bila dananya dipakai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa kebersamaan warga dan kelestarian lingkungan di kompleks kita.

Senangnya mempunyai tetangga yang peduli dengan kebersamaan warga dan selalu berprasangka positip terhadap para pengurus RT yang bekerja tanpa pamrih dan tanpa digaji.

Kecintaan terhadap lingkungan kompleks ini merupakan cerminan kita akan kecintaan pada Bangsa dan Negara. Inilah kecintaan pada Bekasi, kota yang membuat kita selalu merasa aman dan tenteram tinggal di dalamnya.

Kecintaan pada Bekasi ini ditunjang dengan ikut sertanya aku dalam komunitas BeBlog [Blogger Bekasi]. Inilah sebuah kelompok yang tidak eksklusif, merakyat dan penuh dengan aroma sinergi tanpa batas. Itu pula yang membuat komunitas inipun akhirnya tertarik untuk bekerja sama dengan komunitas TDA Bekasi, yang memang sudah lebih dahulu berdiri dan selalu fokus untuk meningkatkan jumlah insan Indonesia yang peduli akan perlunya semangat selalu memberi, menebar rahmah ke lingkungan masing-masing.

Beberapa tahun silam, kita selalu sangat peduli akan kualitas sebuah produk, namun untuk kali ini kualitas saja masih belum menjawab tantangan yang ada saat ini. Kita butuh produk yang lebih ramah lingkungan dan kita juga butuh sosok pemimpin yang tidak kenal lelah menyuarakan isu-isu lingkungan yang terus dikesampingkan oleh para perusak lingkungan.

Para perusak lingkungan banyak yang kurang sadar bahwa tindakan mereka telah menggerogoti kelestarian alam. Betapa seringnya kita dengar perintah untuk mencetak sesuatu hal padahal tanpa kegiatan mencetakpun suatu hal tersebut masih bisa disampaikan ke orang lain yang membutuhkan.

Selembar kertas yang kita pergunakan nilainya kadang bisa menjadi begitu mahal, karena untuk membuat kertas butuh menebang pohon yang kalau tidak ditangani dengan benar akan membuat penggundulan hutan secara semena-mena. Berbahagialah mereka yang sudah bisa menjalankan 3R [Reduce, Reuse, Recycle], sehingga bisa mengurangi sumber daya alam yang kadang begitu rakus kita habiskan.

Kurangilah pemakaian kertas sebisa kita, bila perlu daur ulang kertas yang ada. Di internet banyak sekali cara untuk membuat kertas dengan proses daur ulang. Kita tinggal memilih salah satu cara yang ada.

Jadi lengkaplah sudah kota kita ini untuk dicintai. Di kota ini bercokol berbagai komunitas yang saling bersinergi. Kumulai dari lingkungan terkecil, komunitas RT-ku, komunitas Cimart, Mastermind CIkarang, TDA Bekasi, TDA Pusat, Blogger Cikarang, BeBlog [blogger Bekasi], Kompasiana, Politikana, DagDiGDug dan berbagai komunitas yang lain yang ternyata dedengkotnya banyak yang berdomisili di Kota Bekasi.

Yang lebih membuatku terharu adalah tekad dari teman-temanku untuk menjadikan aku sebagai pemenang kontes SEO di Pertamina, padahal aku tidak ahli SEO dan kalaupun menang pasti bukan karena aku yang hebat tapi dukungan back-link dari teman-teman Blogger. Itu pula yang membuat hadiah kontes SEO yang pernah kudapat, kuberikan pada suatu badan sosial yang lebih membutuhkan dari pada untuk diriku sendiri, toh yang membuatku menang adalah usaha dari teman-temanku. Jadi kalau mau mendukungku dalam kontes SEO Pertamina, percayalah hadiahnya akan kusumbangkan pada badan yang lebih membutuhkan.

Bravo Bekasi, aku cinta Bekasi FULL and FOREVER…!!!:-)

+++

Andai semua sudut kota Bekasi bisa seperti jalan di belakang rumahku ini. Setiap hari libur kami habiskan waktu berjalan-jalan di belakang rumah, sambil merasakan hawa segar yang selalu memenuhi paru-paru kami secara gratis.

Meskipun saat ini susah mencari lapangan bola, tetapi anakku tetap rajin jalan-jalan bawa bola dan main dimanapun bisa main.

Lumayan kalau bisa ketemu lapangan seperti ini. Tanpa perlu tiang gawang, yang penting bisa olah raga untuk menyehatkan jasmani dan rohani [mensana in corporisano].

Bekasi memang pantas dicintai warganya.

Sate Ayam

Malam-malam iseng beli sate ayam yang lewat di depan rumah. Ternyata dua panggilan langsung bersahutan begitu aku mulai memanggil abang Tukang Sate.

Karena abang Tukang Sate menganggap suaraku yang lebih dulu didengar, maka dia menuju depan rumahku dan mulai membakar satenya.

“Sepuluh tusuk dan satu lontong aja”, kataku

Dengan penuh kesunyian, abang Tukang sate mulai mempersiapkan sate dan arang untuk memenuhi permintaanku.

Kembali aku iseng nanya-nanya rumahnya, nanya jam kerjanya dll, sekedar pelepas kesunyian saja. Di dalam rumah, Lilo asyik nonton Herbie Full Loaded dan gak mau diganggu gugat lagi.

“Ini gerobak dorong punya siapa Bang?”, kataku

“……”,

Tak ada jawaban, entah karena suaraku terlalu pelan atau memang abang Tukang satenya gak mau njawab, aku tak tahu, jadi kutanya lagi dengan pertanyaan lain.

“Ini digaji bulanan atau berdasar sate yang terjual”

“Gaji bulanan pak”

“Berapa?”

“Enam ratus ribu”

“Kalau satenya habis dapet bonus enggak?”

“Enggak”

“Seringnya laku sampai berapa tusuk?”

“Sisa sekitar 20 sampai 30 tusuk dari 300 tusuk, atau penjualan sebesar 250 ribu sampai 300 ribu per hari”

“Kalau hujan?”

“Gak laku mas…”

“Tapi tetap dibayar enam ratus ribu ya?”

“Iya…”

“Enak donk, gak laku juga gak papa. Nyantai jadinya ya?”

“Enggak juga. Gak enak sama juragan kalau sampai banyak yang gak laku…”

“Oooo…gitu ya..?”

“Iya mas…”

“Kerja 4 jam dan digaji enam ratus ribu, khusus malam hari, berarti kalau siang bisa kerja yang lain donk…”

“Pagi kadang bantu-bantu, tapi siang hari capek dan tidur…”

Belum sempat nanya panjang lebar, satenya sudah matang, jadi selesailah pembicaraan malam itu. Padahal mau nanya, apakah punya mimpi untuk mempunyai gerobak dorong sendiri dan mendapat untung dari sate yang terjual bukan dari gaji bulanan…

Lain kali sajalah

Survey Anjangsana Amprokan Blogger 2010

Sebelum sampai hari H, maka tim BeBlog mencoba menyusuri dulu jalan menuju lokasi Anjangsana yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2010 nanti. Dari beberapa anggota tim yang menyanggupkan diri untuk bergabung akhirnya tersisa 4 orang saja. Mereka terdiri dari 2 pria dewasa [Mas Irfan dan aku], seorang wanita Dewasa [mbak Ajeng] dan seorang pria kecil [mas Lilo].

Para peserta yang lain terpaksana mengundurkan diri dari tim, karena gelapnya langit dan adanya pemberitahuan bahwa tanggul di Bogor ada yang jebol. Hujan yang begitu deras memang cukup menciutkan nyali teman-teman yang biasa kena langganan banjir.

Akhirnya kami berempat berangkat dengan penuh keyakinan, meluncur sesuai dengan rute yang akan ditempuh pada tanggal 6 Maret 2010 nanti.

Setelah sempat salah arah  sebentar, maka perjalanan akhirnya berjalan sesuai rute. Berhenti sebentar di sekitar tugu Patriot, mobil kembali berputar arah dan menuju ke pondok pesantren At Taqwa. Padatnya lalu lintas membuat kendaraan yang kita naiki harus merayap, belum lagi jalan yang cukup kecil.

Sampai di lokasi, hujan gerimis langsung menyambut kita. Kita ambil beberapa foto sebagai buktikenarsisan tim survey ini dan kemudian kembali meluncur dengan mencoba mengambil alternatif jalan lain.

Tenryata alternatif jalan yang diambil cukup lega jalnnya dibanding jalan menuju ke ponpes At Taqwa, namun sayangnya banyak lobang kebo di tengah jalan, sehingga boleh dikata tidak ada pilihan yang lebih baik dari dua pilihan itu.

Ketika menuju ke lokasi Anjangsana selanjutnya, perut sudah tidak mau kompromi lagi, jadi mampirlah kami di warung soto kudus. Ternyata hanya dua orang saja yang demen soto kudus. Mas Irfan memilih Nasi Gandul khas Pati dan lilo memilih Sop Iga.

Tadinya kita mau mampir ke rumah mas Vavai yang sedang menungguin istrinya di rumah beliau, karena terbukti bahwa istri mas Vavai telah mempunyai calon adik kecil yang genap berumur 4 bulan di dalam kandungan. Sayangnya sang perut sudah tidak mau tahan lagi, apalagi arah mobil sudah mengarah ke TPA Bantar Gebang.

Selesai makan barulah kita meluncur ke TPA Bantar Gebang setelah sempat nengok gedung MK, tempat acara Amporkan Blogger tanggal 7 Maret 2010. Di MK inilah kita sempatkan juga untuk sholat Dhuhur berjamaah.

Perjalanan menuju ke TPA Bantar Gebang melalui jalan yang lebih luas namun dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang lebih padat, sehingga praktis kondisinya mirip dengan arah ke pesantren At Taqwa, bedanya di sini jalanya sangat mulus.

Sampai di TPA terlihat pemandangan menghijau, padahal lahan ini adalah bekas lahan sampah. Memang suasana terlihat menjadi sangat kontras, antara lahan hijau dan gunung sampah serta rumah para pemulung yang begitu nyaman mereka tempati.

Di lokasi ini, menurut teori harusnya tidak bau, tetapi pada kenyataannya tentu tetap saja bau, meskipun memang tidak semenyengat bau sampah yang biasa dibawa dari rumah/pasar oleh truk sampah.

Puas berfoto di lokasi sampah, maka meluncurlah tim survey menuju Giant, karena hasil surbey ini perlu segera dibicarakan dalam suatu rapat kilat dan mendadak, agar segera dapat diantisipasi rute yang mana yang sebaiknya diambil.

Alhamdulillah, dua selebritis BeBlog bisa hadir dalam acara rapat dadakan, sedangkan pengurus inti yang lain mengikuti rapat melalui jalur komunikasi saja.

Salut buat Kang Harun dan mbak Anggi yang tetap penuh energi meskipun baru saja siaga banjir dan kemudian melakukan kunjungan ke lokasi banjir.

Sayangnya badanku sudah tidak kuat lagi. Rasa pening di kepala sudah tak tertahan, maka dengan tetap pura-pura senyum aku langsung pamitan, ngeloyor pulang.

Untung mas Lilo masih punya energi besar, sehingga sepanjang jalan sanggup menghiburku dan membuatku tertawa bersama.

Inilah tour semi off road yang lumayan berat untuk kondisi kesehatanku yang seperti ini. Semua demi BeBlog, demi Temu Blogger dalam ujud Amprokan Blogger 2010. Terim akasih buat anggota tim yangtelah berbagi rasa berbagi cerita sepanjang perjalanan. Terima kasih buat LiLo yang sanggup mencuci mobil di sela-sela waktu mainnya.

Mau Hutang kok malah ditagih

“Din aku mau hutang nih”, ucap mas Yono ke Udin ketika mereka bertemu di kantin saat para karyawan sudah mulai meninggalkan kantin.

“Emang butuh berapa No’?”, ucap Udin serius.

“Gak banyak Din, sepuluh juta saja…”

“Hmmm…untuk apa duit sebanyak itu?”

“Biasa Din, istriku sudah kehabisan sumber duit bulan ini dan ada tagihan yang harus kuselesaikan di bulan ini atau aku bakal rugi besar”

“Terus darimana rencana pengembalian hutang ini?”

“Gampang Din, bulan depan ada obyekan yang bisa untuk membayar hutang ini”

“Oooo…bagus tuh langsung lunas…”

“Bukan begitu Din, maksudnya cicilan pertama bulan depan ditanggung lancar”

“Jadi mau dibayar berapa kali?”

“Gimana kalau sepuluh kali Din. Nanti tiap bulan aku setor sejuta lebih deh”

“Oke… aku tidak akan mempermasalahkan berapa kamu mau bayar per bulannya. Yang penting jumlah yang kamu perlukan dan berapa lama mau dikembalikan.”

“Wah kamu baik banget deh Din. Makasih ya…”

“Sama-sama deh”, Udinpun melanjutkan suapan terakhirnya. Sementara itu Yono justru terlihat gelisah melihat sikap Udin yang terlihat tenang, tapi tidak jelas dan tidak seperti Udin yang dikenal Yono.

“Bener kan mas Udin?”

“Lho kamu gak percaya sama aku No’?”

“Percaya deh Din, tapi …”

“Emang aku pernah nipu kamu No’?”

“Maksudku kapan aku bisa ambil uangnya. Bisa sore ini Din?”

“Hmmm …tergantung deh….”

“Tergantung apanya?”

“Aku kan perlu ngambil uang itu dulu ke Pak Dhe”

“Lho…apa hubungannya dengan Pak Dhe Din?”

“Kata pak Dhe, kalau mau minjemin uang ke Yono tolong bilang aku dulu ya. Begitu No’, jadi aku ya menghormati pak Dhe dan akan diskusi dengan beliau dulu sebelum meminjami uang”

Yono tampak terdiam dan terlihat lesu ketika mendengar ucapan terakhir Udin. Sikapnya yang tadinya begitu bersemangat mendadak meredup dan cara duduknya juga sudah seperti kehilangan tulang belulang.

“Ada apa sih No’? Kok kamu tiba-tiba lemas begini”

“Aku pernah dinasehati Din dan aku belum bisa menjalankan nasehat pak Dhe itu”

“Ceritanya gimana No’?”

“Pak Dhe pernah memanggilku ketika melihatku berdoa lama di mushola. Aku ditanya tentang beberapa hal sampai akhirnya menyinggung masalah hutang piutang”

“Hmmm….terus…”

“Pak Dhe bilang caraku sudah benar dengan berdoa lama di Mushola untuk mendapat bimbingan dan petunjukNya, tapi kalau terlalu lama juga tidak bagus..”

“Karena…?”

“Karena waktu berdoaku jadi nabrak jam kerja Din, begitu kata pak Dhe”

“Ooo..iya juga ya..”

“Kata pak Dhe, agar kita mendapat petunjuk dan bimbingan dariNya secara jernih dan bersih, maka sebaiknya aku berdoa di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya”

“Hmm……”

“Itu yang aku belum bisa kulakukan Din. Aku hampir selalu bangun setelah adzan atau maksimal pas berakhirnya adzan subuh. Udah begitu habis sholat subuh, akupun biasanya langsung tidur lagi. Yang lebih parah kadang mendengar suara adzan bukannya bangun malah aku menarik selimutku dan meneruskan tidurku”

“Astaghfirullah…”

“Pak Dhe bilang begini. Kalau mau disegerakan rejeki kita, maka segerakan juga ibadah padaNya. Kalau mau banyak rejeki ya perbanyak saja amalan yang baik-baik. Insya Allah Tuhan selalu ada di dekat kita, tanpa kita sadari, untuk memenuhi kebutuhan kita”

“Subhanallah, aku malah baru dengar tuh nasehatnya. bagus banget tuh. Nasehat sederhana yang logis banget”

“Oke Din, aku ke kantor dulu”, Yono bergegas berdiri dan meninggalkan Udin.

“Gak jadi hutang No’?”, Udin berusaha mengingatkan Yono.

“Gak jadi Din, lain kali aja….”

Udin tersenyum melihat Yono yang berjalan setengah berlari menuju arah kantornya. Dia ingat benar nasehat pak Dhe tentang bagaimana menghadapi Yono, jika suatu saat didatangi Yono untuk berhutang.

Perlahan Udin mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, merobek-robeknya dan membuangnya ke kotak sampah. Andai masih ada Yono, tentu Yono akan tergelak melihat surat permintaan pinjaman hutang dari udin untuk bendahara koperasi pabrik.

“Naudzubilahhi…”

Udin berjanji untuk rajin ibadah dulu sebelum mengajukan surat pinjaman hutang ke koperasi. Semoga Tuhan menunjukkan cara lain selain berhutang, karena hutang bagi Udin adalah cara putus asa menghadapi hidup ini.

“Pasti ada solusi dari masalahku selain berhutang…”

+++

sumber gambar : internet [disini dan disini]