Kehangatan Warga Montana Jababeka


Pagi hari, berdua dengan LiLo aku keliling kompleks pakai sepeda tandem. Dua bel sepeda saling bersahut-sahutan dengan maksud mengajak teman-teman kompleks untuk keluar dan kerja bakti.

Ada dua acara yang harus kuhadiri di pagi hari ini, yang pertama acara kerja bakti dan sosialisasi pemilu 2009 di kompleks dan satunya bersih-bersih markas usaha bersama CiMart, yang merupakan bagian dari Komunitas Insan Mandiri atau Koperasi Mutiara Insan Mandiri.

Tadinya suasana tetap sepi, padahal acara seharusnya dimulai setengah jam lalu, akan tetapi begitu kerjaan mulai dikerjakan, maka berturut-turut para penghuni kompleks mulai bermunculan.

Pak RT mulai memberi contoh mbersihkan got

Dimulai dari bersih-bersih got, akhirnya sampai pada kerjaan bongkar “man hole”. Banyak sekali sampah yang seharusnya tidak masuk saluran ini, tetapi begitulah yang terjadi. Aneka ragam sampah masuk ke saluran air dan akibatnya sudah jelas, bila hujan
tiba air tetap saja menggenang.

anak kecilpun ikut
sampah yang mestinya tidak masuk ke got
Penggerak kerja bakti yang tak kenal lelah

Suasana yang tadinya sepi, makin lama makin meriah. Para penghuni kompleks yang tadinya adem ayem di rumah masing-masing mulai mengeluarkan ilmunya masing-masing, bahkan seorang warga asing yang ikut acara kerja bakti itu tidak segan-segan untuk memegang barang yang mungkin sehari-hari tidak akan pernah dia pegang.

Tumpukan sampah yang menggunung tidak menyurutkan para pekerja amatiran ini. Salah seorang wargapun dinobatkan sebagai pahlawan kompleks karena begitu totalnya dia membersihkan got, sampai kepalanyapun ikut masuk ke dalam lobang yang gelap dan jelas beraroma “sangat wangi”.

Pahlawan RT melihat proses akhir pembersihan “man hole”

Teknologi canggihpun dilakukan, yaitu dengan memasukkan handycam ke dalam lorong saluran, sehingga dapat diketahui barang apa saja yang membuat saluran di bawah jalan itu mampet.

hati-hati ke”cemplung” ya pak…!

Di kelompok lain, rupanya ada kegiatan tersendiri, yaitu menanam pohon buah [mangga] di beberapa titik jalan. Inilah semangat Go Green di kompleksku.

he..he..he.. dapet pohon gratis

Alhamdulillah, di depan rumahku juga ditanami satu buah pohon baru. Lumayan, tinggal siap-siap untuk merawatnya saja secara rutin.

Di kelompok lain lagi, ibu-ibu rupanya ikut komunitas NU alias komunitas penyedia Nasi Uduk untuk mereka yang giat bekerja bakti. Gurauan khas ibu-ibu jelas membuat suasana makin meriah. Tahu sendirilah kalau ibu-ibu sedang ngumpul.

penyedia nasi uduk montana

Begitu asyiknya bekerja bakti, sehingga seperti tidak mendengar ketika pak RT bilang bahwa sebaiknya sisa pekerjaan yang ada [menerobos lorong di bawah jalan] diserahkan saja pada ahlinya. Paling dengan biaya 200 ribu, got di bawah jalan itu akan bersih, karena sudah kita rintis dengan memindahkan segunung sampah dari dalam got itu ke pinggir jalan.

Saat itulah tiba-tiba pak RT mendapat berita dari relawan yang sedang ada di lokasi bencana alam Situ Gintung. Langsung saja berita itu disampaikan ke warga dan para wargapun langsung menyambutnya dengan menyumbang semampu masing-masing. Aku sendiri tidak bisa ikut acara itu, karena aku nantinya pasti hanya akan menjadi turis saja disana.

Kubaca di koran pagi ini, bahwa ”turis lokal” itu justru akan mempersulit proses evakuasi dari tim SAR ataupun tim yang lebih berpengalaman dalam proses itu. Aku juga lebih percaya pada relawan dari partai-partai yang ikut pemilu ini, karena kutahu bahwa mereka sudah cukup berpengalaman dalam menangani bantuan untuk korban bencana alam.

Ketika siang sudah makin menjelang, maka acara makan pagi yang kesianganpun dimulai. Nasi uduk lengkap dengan telor, ayam goreng, tempe goreng dan kawan-kawannya akhirnya mampir juga ke perut kita. Acara makan ini seperti biasa diiringi oleh musik khas RT kami, lagu dangdut RH Oma Irama dan lagu-lagu dari Tom Jones. Perpaduan yang khas banget.

Usai makan nasi uduk, mulailah pak RT melakukan sosialisasi pencontrengan kartu suara. Ger-geran kembali mewarnai acara sosialisasi ini. Pertanyaan silih berganti ditanyakan dan jawaban selalu membuat penonton makin paham dengan yang disampaikan oleh pak RT.

Masalah para penonton nanti akan memilih golput atau tidak, tetap akan menjadi rahasia penonton saja, meskipun pak RT menghimbau agar warga jangan golput.

asyik mendengarkan sosialisasi pemilu
ketua KPPS melakukan sosialisasi pemilu
orang asingpun ikut memperhatikan sosialisasi pemilu

”Kita tunjukkan rasa nasionalisme kita pada Nusa dan Bangsa”, kataku nyeletuk. Membuat para penonton tambah ger-geran. Apalagi ketika mereka mulai mengomentari salah saorang warga asing yang tidak punya hak memberi suara di pemilu ini.

””Bapak nyoblos yang lain saja ya pak”, kataku yang makin membuat penonton tertawa lepas.

Akhirnya acarapun diakhiri dengan suka cita di hati masing-masing. Kamipun pulang ke rumah masing-masing, karena sebentar lagi akan datang para petugas “FOGGING” untuk mengasapi rumah masing-masing warga.

Salut buat pak RT dan jajaran pengurusnya, tidak lupa buat teman-teman warga kompleks Montana yang begitu hangat mengisi acara pagi ini. Bersama memang terasa ringan.

Akupun siap-siap untuk menuju markas CiMarT. Ada acara bersih-bersih di sana.

narsis berjamaah

Resto Mang Engking [cek balik]


Nikmat lezat Ikan Asam Manis Sami Kuring masih lekat di lidah, tapi aku harus sudah merasakan nikmat lezat ikan bakar Mang Engking. Wuih… jarak acara yang terlalu dekat nih, jadi aku harus merelakan kehilangan pesona rasa Sami Kuring [SK].

Tidak apalah, nikmat lezat Mang Engking [ME] masih mampu membuat lidahku menari-nari, sehingga aku tetap dapat berada di dunia kuliner yang selalu membuat “ngiler” dan terpaksa sesekali menelan air liur [sendiri].

INGAT menelan air liur orang lain bisa menimbulkan bahaya [kalau bukan muhrim lho].

Suasana rumah makan ME memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Kolam ikan yang penuh ikan berlarian kesana kemari dan gubug yang begitu teduh membuat penikmat kuliner rela membayar mahal untuk ini.


Perjalanan jauh dari Jakarta menuju kampus UI Depok juga membuat kita sepanjang jalan sudah menelan air liur duluan, sehingga ketika sampai di lokasi, maka yang dipikirkan hanyalah menyikat hidangan sampai habis.


Makanan istimewa memang udang, baik yang model direbus atau model belepotan dengan rasa pedas yang panas dan membuat belum mau berhenti sebelum piring udangnya kosong.


Kalau mau disetarakan, mungkin udang bakar madu ME ini setara dengan udang yang ada di resto Aloha Surabaya, namun nuansanya lebih kena di ME yang penuh dengan kedamaian, tanpa AC dan tanpa dinding yang dingin.

Jadi kalau demen udang bakar madu, tidak salah kalau test rasa di resto ME ini.

Menu lain yang tanpa malu-malu kulahap habis adalah Ikan Bakar. Bagaimana tidak, bumbunya yang sangat meresap membuat duri ikan yang keringpun habis kumakan.


Jangan tanya soal daging di kepalanya, kuoperasi sedikit demi sedikit, sehingga hanya tulang yang tidak bisa kemakan saja yang masih tinggal di meja.

Selesai satu ekor ikan lengkap dengan kepalanya masuk ke peraduannya [maksudku ke perutku], akupun mulai bergerilya ke piring yang lain. Saat kawanku meleng sedikit, maka kutarik piring ikan bakarnya dan tanpa tedeng aling-aling kuambil semua sisa ikan yang ada di piringnya.

Puas sudah makan siang sehabis Jumatan ini. Kamipun bergeser ke tempat cuci tangan dan siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan cukup jauh, takutnya sampai jakarta udah lapar lagi terus pingin ke resto ME lagi, abis dah waktu untuk pp Jakarta Depok.

EARTH HOUR [LAGI]

Akhirnya saat yang ditunggu tiba juga. Aku keluar rumah menuju rapat persiapan pemilu 2009 sambil meminta anak dan istri untuk mematikan semua lampu rumah yang bisa dimatikan [emang ada yang tidak bisa dimatikan?].

Kemarin kawanku nanya tentang apa saja yang harus dimatikan di hari Sabtu, 28 Maret 2009, dari jam 20.30 s.d 21.30?

“Tidak ada kewajiban mematikan lampu ataupun alat listrik di tanggal dan jam itu”, kataku

“Yang ada adalah rasa memiliki bumi dan keinginan untuk memperpanjang umur bumi. Jadi silahkan menghidupkan ataupun mematikan alat listrik yang ada di rumah”

“Jadi kulkas boleh nyala ya pak?”, kata kawanku masih penasaran.

“Silahkan dinyalakan ataupun dimatikan. Semua terserah yang punya. Kita sifatnya hanya menghimbau, agar masih bisa mewariskan bumi yang cantik pada anak cucu kita. Yang lebih nikmat lagi adalah rasa kebersamaan dari semua penduduk bumi untuk sama-sama menikmati bumi tanpa lampu dalam waktu satu jam saja”.

Di acara rapat persiapan pemilu 2009, masih juga ada yang nanya padaku,”Siapa sih yang nyuruh mematikan lampu satu jam itu. Apa pemerintah ya?”

Sambil tersenyum, aku kembali menjawab bahwa ajakan ini bukan dari pemerintah tetapi dari mereka yang peduli dengan bumi.

Hari ini memang hari yang luar biasa bagiku dan tentu juga bagi keluargaku.

Kemarin malam, kita rapat keluarga sambil tiduran di kasur, dan semua uneg-uneg keluar dari anak-anakku. Banyak sekali pelajaran yang bisa kudapat dari semua uneg-uneg yang keluar dari mulut ketiga anakku itu.

Aku memang masih harus banyak belajar untuk membuat keluargaku menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah. Terima kasih anak-anakku yang telah dan selalu memberi pencerahan padaku. Malam itu juga kuucapkan terima kasih pada Tuhan dan kuberikan hadiah yang sudah lama diinginkan anak-anakku.

Diskusi malam itu kututup dengan “PR” bagi anak-anakku, yaitu menyusun acara selama satu jam tanpa lampu di acara “EARTH HOUR“.

Paginya, sehabis subuh, acara diskusi kita lanjutkan. Fokusnya adalah “PR” tadi malam, dan LiLo memulai usulan acara dengan model berpikir anak SD.

Kesepakatan akhirnya adalah membuat api unggun di belakang rumah, tetapi usulan ini dimentahkan oleh usulan istriku, yaitu membuat acara bakar jagung saja dengan bakaran jagung atau bakaran sate yang murah dan meriah.

Rencana yang begitu sempurna itu ternyata akhirnya gagal total. Istriku ternyata harus pergi ke Slipi untuk urusan kalung Biofir, sedangkan aku diundang rapat oleh Pak RT untuk acara kerja bakti mendadak besok Minggu, 29 Maret 2009.

Acara makin gagal total, karena disamping tidak sempat beli tempat bakar jagung, aku juga ternyata harus rapat persiapan pemilu 2009 pada saat acara “EARTH HOUR” berlangsung.

LiLo tertawa terpingkal-pingkal ketika tahu aku harus ikut acara yang pakai lampu pada jam lampu sebaiknya dimatikan.

“He..he..he.. bapak bodoh. Semua orang matiin lampu, bapak malah ngidupin lampu sama temen-temen”

Aku hanya bisa tersenyum kecut dan tidak bisa menjawab tertawaan LiLo.
[makanya jangan bilang orang yang tidak matiin lampu di acara "EARTH HOUR" adalah orang bodoh, kena sendiri deh lu !:-)]

Anda sendiri, di jam acara itu, apa yang anda lakukan?

 
Jadi kayak rumah tanpa penghuni [gelap gulita]

EARTH HOUR

Hati ini rasanya bangga ketika salah satu adik alumniku memberi komentar positip terhadap kelakuanku yang suka naik angkot ke kantor.

“Saya salut dengan pak Oke yang mau naik angkot ke kantor lho!”

“Tidak semua orang mau naik angkot lho pak. Panas, tidak nyaman dan tidak aman”

Komentar-komentar itu rasanya menjadi penyejuk dan peringan langkahku, yang kadang terasa berat ketika menuju terminal angkot 59.

Lain kepala lain pula komentarnya. Ketika aku malam-malam pulang dari kantor, ada saja yang memberikan komentar terhadapku.

“Pak Kasihan perusahaannya lho. Sudah jadi pejabat kok masih suka naik angkot”

“Sopirnya kemana pak?”

Nah untuk komentar yang ginian,aku selalu menyambut dengan riang gembira. Senyum terkembang dan kadang begitu lebarnya karena kulengkapi dengan ketawa ringan.

“Tak usah khawatir pak. Sopirku ada banyak tuh. Udah nunggu di depan. Tinggal milih kok, sopir yang mana yang mau kita suruh mengemudikan mobil yang kita naiki”

Hari ini, sepulang dari makan siang di resto Sami Kuring, aku juga naik angkot ke Jababeka. Sampai di Jababeka, nyambung ojek dan sampai di rumah biayanya cukup 7 ribu saja.

Rasanya ringan saja kaki ini melangkah. Apalagi pas di angkot ketemu dua cewek cantik yang wanginya luar biasa. Panasnya angkot terkalahkan oleh aroma dari dua cewek yang duduk persisi di depanku dan persis di sebelah kananku.

Ini jauh berbeda dengan aroma saat naik angkot 59 di sore hari. Aroma keringat yang menyengat ditambah padatnya penumpang benar-benar membuat pusing kepala, tapi itu hanya terjadi di bulan-bulan pertama naik angkot.

Saat menginjak bulan kedua, maka semua ketidak nyamanan itu sudah tidak terasa lagi. Semua menjadi kebiasaan yang tidak lagi kita rasakan, mengalir begitu saja.

Puji Tuhan, anakku rupanya mewarisi semangat go green ini. Dia sangat senang melihat orang yang membuang sampah di tempatnya. Diapun sangat gemar mengajak teman-temannya untuk berbelanja ke toko dengan membawa tas sendiri dari rumah.

Persedikit penggunaan sampah plastik, begitulah ajakan Go Green yang disampaikan anakku.

Bumi ini sudah jenuh dengan tindakan yang mempercepat umur bumi. Begitu banyak sumber daya alam yang dipakai secara semena-mena, hanya untuk memuaskan nafsu yang tak akan mengenal puas.

Mari kita sama-sama mematikan listrik di hari Sabtu, 28 Maret 2009. 1 [satu] jam saja sudah cukup.

Silahkan simak ajakan Earth Hour ini :

Tahun ini, Earth Hour telah berubah menjadi sebuah pemilihan global pertama, untuk memilih Bumi atau pemanasan global.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia dari berbagai usia, kebangsaan, ras, dan latar belakang  memiliki kesempatan untuk menyuarakan kepedulian mereka – mematikan lampu mewakili suara Anda untuk Bumi, sementara meninggalkan lampu menyala merupakan suara Anda untuk pemanasan global. WWF mendesak dunia untuk MEMILIH BUMI dan mencapai sasaran hingga 1 miliar suara.

Ini saatnya Anda sebagai individu memilih:
jadi bagian dari 1 milyar penduduk dunia yang ikut kampanye ini

EARTH HOUR JAKARTA – INDONESIA
Sabtu, 28 Maret 2009, jam 20.30-21.30

Matikan LAMPU 1 jam

saya, Anda, kita, bisa mengubah dunia!
* dan pastikan semua alat elektronik yang tidak sedang dipakai dalam kondisi power off, BUKAN stand by

1 jam lampu Jakarta padam, sama dengan .

  • 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
  • mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
  • mengurangi emisi CO2 sekitar 284 Ton CO2
  • menyelamatkan lebih dari 284 pohon
  • menghasilkan udara bersih untuk lebih dari 568 orang.

== source disini :

daftarkan diri anda sebagai pendukung Earth Hour dan dapatkan imil seperti ini :

Kepada yang terhormat Eko eSHaPe,


Terima kasih telah mendaftarkan diri Anda sebagai pendukung Earth Hour 2009.


Dengan mendaftarkan diri, Anda telah mendukung tujuan Earth Hour untuk meraih target lebih dari satu miliar orang di 1000 kota di seluruh dunia pada tahun 2009. 

Earth Hour mengundang masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah untuk mematikan lampu selama satu jam pada pukul 20.30 di hari Sabtu, 28 Maret 2009, dan sekaligus mengirimkan pesan global yang kuat
bahwa kita peduli dan melakukan tindakan untuk mengurangi laju dampak perubahan iklim.


Newsletter Earth Hour akan dikirimkan ke eko.eshape@gmail.com.


Anda dapat membatalkan pendaftaran pada setiap waktu, cukup dengan menekan link yang tercantum di newsletter atau dengan mengunjungi situs:


http://www.earthhour.org/unsubscribe/


Terima kasih atas dukungan Anda.


WWF Earth Hour
http://www.earthhour.org

SAMI KURING, Restoran Megah Harga Murah

Sebagai auditor sistem dan sebagai instruktur sistem, maka pelajaran yang tidak pernah ketinggalan adalah pelajaran tentang toilet.
Ini pelajaran yang sangat sederhana, tetapi sering banyak menolong seorang auditor saat melaksanakan tugasnya.
Cobalah tengok toilet auditee, maka kebersihan dari toilet itu biasanya mencerminkan manajemen yang terjadi di auditee.
Ini memang tidak 100% benar, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal ini sering terbukti benar di lapangan.
Siang itu, waktu aku ke Sami Kuring, Restoran Megah dengan Harga Murah [wah slogannya sudah konfrontatif banget tuh], maka yang pertama kulihat adalah toiletnya.
Tahun lalu, aku pernah ke restoran ini juga, saat mengantar anakku pelatihan ESQ. Rumah Makan ini memang sering dipakai sebagai ajang latihan ESQ anak-anak.
Kulihat toiletnya masih sebersih tahun lalu, tidak ada perubahan yang terlihat, semuanya tetap bersih dan tanpa aroma yang tak diinginkan, meskipun ruang sholatnya juga masih tetap gelap seperti tahun lalu [ini mungkin sesuai dengan pesan Go Green, matikan lampu jika ruangan tidak terpakai].
Setelah menunggu sebentar saat, akhirnya hidangan muncul juga. Bukan hidangan unggulan Sami Kuring memang, tetapi hidangan yang paling cepat disajikan, karena rombongan mau segera meluncur ke Cengkareng.
Pertama yang kurasa adalah sop buntut.

Rasanya standard, tetapi dagingnya sangat empuk, jadi kalau memang selalu konstans dihidangkan seperti ini, maka sop buntut ini bisa dijadikan menu pilihan di Sami Kuring.
Makanan kedua yang kurasa adalah “kool nenek” [ini khas RM Handayani Surabaya]. Rasanya tidak kalah dengan yang disajikan di Surabaya.

Aku memang tidak mengambil banyak, karena perutku sering tidak mau kompromi dengan makanan ini. Jadi kusisakan saja buat yang demen dengan menu makanan ini.
Yang paling berkesan tentu saja adalah ikan asam manis. Bener-bener renyah dan gurih. Pokoknya mak nyuss banget deh.

Kalau enggak malu, rasanya mau kuhabiskan sendiri, tetapi rasa malu yang ada di hati membuat aku harus berbagi dengan peserta yang lain.
Alhamdulillah, aku dapat porsi terbesar. Tentu dengan sedikit sok acuh tak acuh waktu ngambilnya.
Sayang aku tidak sempat memesan minuman. Istriku memesankan aku minuman yang dingin, sesuatu yang kurang kusukai, jadi aku tidak bisa berkomentar tentang minuman di Sami Kuring ini.
Aku paling suka ngetest minuman jeruk manis. Pemilihan buah jeruk yang salah sering membuat penyajian jeruk jadi kecut atau malah terasa basi.
Di akhir kunjungan ini, ada satu hal kecil yang kuapresiasi, yaitu ketika petugas pembersih meja mengucapkan terim akasih padaku.
Biasanya yang suka ngucapin hal semacam ini adalah seorang atau dua orang gadis muda yang berjaga di pintu keluar. Ucapannya juga standard banget.
Nah ternyata ketika diucapkan oleh pembersih meja, rasanya jadi lain. Wajah yang tidak cantik tapi jernih dan menunjukkan ucapan terima kasih yang tulus membuat hati ini jadi terasa seperti sangat berharga di hadapannya.
Wajah itu seperti menunjukkan bahwa kedatanganku ini membuat resto ini menjadi bisa terus hidup dan menghidupi dirinya beserta keluarganya.
Kapan-kapan kalau ke SK lagi mau nyoba jeruk manis deh [emang ada atau enggak ya jeruk manis di restoran SK ini?]. Biar bisa manis seperti wajah pembersih meja itu.
Mau tahu tempat resto SK ini?
Nah, Restoran SK ini terletak di sebelah kanan dari Carefour Cikarang berdekatan dengan restoran padang yang ada di samping Carefour.
Kalau ada waktu aku perlu mengajak teman-teman milis Bangomania untuk mencoba koki di SK ini. Mereka biasanya punya selera yang beragam, dan tentunya komentarnya bisa beragam juga.
Tinggal nunggu undangan dari pemilik restoran SK, yang juga sudah berhasil kupengaruhi untuk masuk ke milis Bangomania [ada nggak ya undangan seperti itu, he..he..he... mimpi kali ye...].
== ======= =====
tulisan ini dibuat sebagai ujud dukungan dari Ub.CiMart untuk salah satu anggotanya yang punya bisnis kuliner

semoga tetap independent dalam meberikan penilaian
[amin]