nDobos di Sipil UGM Yogya

 

Tahun lalu aku dapet tugas wawancara calon pegawai baru di Undip Semarang. Rasanya nyaman berada di kota LunPia itu. Nostalgia Semarang segera terpampang di halaman muka mataku.

Tahun 2009 ini, aku kebagian tugas wawancara di Yogya. Hmmm…. aroma nostalgia langsung tercium jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Cengkareng.

Benar saja, begitu kakiku menginjakkan kaki di ruang sidang biru lantai 3 fakultas teknik sipil, maka semerbak nostalgia langsung memenuhi hidungku.

 

Mulai dari bos dosen sampai kepala bagian pengairan [Mr.GiYaT] alias yang punya kekuasaan mutlak di dapur, langsung menyalamiku. Aslinya aku pingin ketemuan dengan Master Milis Civeng Mr.Djoko Luknanto, tapi aku tahu beliau sedang super sibuk, jadi ya hanya nitip salam saja.

“Kayak pulang kampung ya dab..!”, kata mr Rudi, sang pengrajin mobil pemilik Kupu-Kupu Malam Yogya, mengomentari keakrabanku dengan “aktifis” kantor jurusan teknik sipil ini.

Acara yang tadinya dijadwalkan dimulai jam 08.00 ini molor, padahal tidak ada hal-hal yang menjadi kendala. Malam ini aku baru nyadar kalau panitia di Yogya ini kan modelnya lain dengan Semarang, jadi penuh unggah-ungguh. Kalau belum diminta mulai, ya nunggu dulu perintah, takut “kuwalat” [halah....!]

Untung para calon pelamar mau memaafkan panitia [he..he..he.. dimaafkan enggak ya], sehingga acara tetap lancar meskipun terlambat dimulai. Akupun tampil memperkenalkan Waskita di hadapan mereka.

Presentasi yang kurang optimal [bagiku], karena aku baru menerima materi presentasi di saat dan di jam mulai presentasi itu. Biasanya aku buat sendiri presentasi itu, sehingga aku sangat menguasai jumlah slide yang ada di presentasi itu.

Aku heran juga, ternyata saat wawancara, banyak yang terkesan dengan presentasiku [alah ... ini paling mbujuki biar diterima ya...]

Ternyata ada kendala yang tidak kuperhitungkan saat aku mewawancarai para calon pegawai itu. Banyaknya ikatan kelompokisme membuat aku jadi terperangah. Wah aku harus profesional nih, masak gara-gara satu alumni terus semua tak luluskan.

Begitu ketemu sama anggota Waterplant Community, aku langsung berbaik sangka, mereka pasti orang yang penuh pengabdian, bercita-cita luhur dan punya visi serta misi hidup yang jelas. Wis langsung diterima saja.

Ada juga yang ternyata tetanggaan, terus ada yang sama-sama alumni delayota. Wah … banyak banget ternyata yang punya hubungan kelompokisme denganku.

Untungnya mereka masuk range di atas batas bawah, bahkan ada yang “top” tenan, sehingga aku tetap dapat menjaga profesionalismeku. Jadi akupun dapat dengan lega meloloskan mereka ke jenjang berikutnya.

Di ajang inipun, seperti biasa, banyak titipan dari orang-orang tertentu agar dibantu diluluskan. Akupun seperti biasa, menyampaikan saat presentasi, bahwa kebanggaanku sebagai insan Waskita adalah diterima melalui serangkaian test yang sulit dan berliku-liku.

Jadi kalau ada yang nitip atau dititpkan, pasti kuterima dengan tangan terbuka asal tetap mengikuti rangkaian test yang dilakukan.

Selesai wawancara, ada yang membisikiku bahwa nama peserta XXX adalah titipan apk YYY [seorang bos besar]. Aku sampai kaget, lha bos sebesar itu kok masih mau nitip2 ya? Apalagi setelah dia menyebut nama XXX, lah si XXX itu nilainya bagus banget, penampilan mantap kok ya masih dititip-titipkan.

Ada juga titipan model lain, yaitu titipan pertanyaan. Nah, ini baru menarik.

“Tanyain suhu air menguap pada tekanan atmosfer mas. Banyak lulusan teknik mesin UGM yang nggak bisa njawab tuh”, begitu titipannya. Eh … bener, ketika kutanyakan nggak ada yang bisa njawab tuh.

Lucunya, aku sendiri sebenarnya juga nggak bisa njawab, begitu juga bank Al, yang kukenal pintar, ternyata katanya juga nggak bisa njawab.

Jadi masalahnya, apa pertanyaannya yang terlalu sulit ya?
Jangan-jangan malah anak SMP yang bisa njawab.

He..he..he… selamat datang para calon pegawai Waskita Karya

Jumatan di Masjid Teknik
[katanya tidak boleh disebut masjid tapi mushola, karena masjid hanya ada satu di kampus]
 
poster di masjid Teknik
[hmmm ... semangat perdamaian yang indah]

Revalina berkalung Sorban

Setelah tertunda-tunda karena alasan yang tidak jelas, akhirnya aku sukses mengantar istri nonton Perempuan Berkalung Sorban. Sebuah tontonan “wajib” bagi kaum wanita dan tontonan yang membuat laki-laki jadi merasa risih.

Kuatnya peran laki-laki dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, dalam film itu dibuat secara ekstrem, sehingga seolah-olah wanita itu memang tempatnya di bawah ketiak laki-laki.

Aku sih belum pernah masuk pesantren, sehingga tidak tahu, apakah adegan dalam film itu benar-benar menggambarkan pesantren yang ada di Jombang atau hanya rekayasa film saja, sehingga menimbulkan kesan dominannya laki-laki atas wanita.

Nisa, sang gadis yang doyan naik kuda sambil berkalung sorban digambarkan sebagai gadis pemberontak yang ingin duduk sama tinggi dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh naik kuda, kenapa wanita tidak?

Hanya seorang laki-laki di lingkungan pesantren yang bisa memahami hati Nisa, dialah Lik Khudori yang digambarkan sebagai kerabat jauh Nisa. Selisih umur yang jauh dan kekerabatan inilah yang membuat Lik Khudori sulit mengungkapkan cintanya pada Nisa.

Apalagi ayah Nisa, seorang Kiai pemilik pesantren, sangat mendambakan Nisa menikah dengan lelaki anak Kiai dan bukan lelaki biasa-biasa saja.

Hal ini pulalah yang makin membuat Lik Khudori tidak bisa bertindak apa-apa. Dia tahu, cintanya pasti disambut Nisa, tapi tidak akan pernah disambut oleh ayah Nisa.

Sikap diam inilah yang makin membuat Nisa seperti layang-layang putus dan akhirnya harus menurut perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, seorang anak Kiai dari pesantren lain.

Janji ayah Nisa untuk mengijinkan Nisa sekolah setelah menikah ternyata hanya menjadi angin lalu saja. Nisa menjadi budak suaminya dan tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah.

Cerita makin seru ketika suami Nisa ternyata menikah lagi dan makin menelantarkan Nisa. Rasanya sudah habis kesabaran Nisa, tetapi nasib belum berpihak padanya. Sampai akhirnya Nisa bertemu lagi dengan Lik Khudori yang sudah lulus dari Kairo.

Api cinta yang memang tidak pernah padam itu kembali membara, bahkan demikian membaranya sampai Nisa rela dizinahi oleh Lik Khudori. Tentu Lik Khudori tak mau melakukan perbuatan itu.

Sayang pertemuan dua insan di tempat yang sunyi itu membuat orang jadi berpikiran buruk. Apalagi hukum orang berzina adalah dilempari dengan batu, maka dijalankanlah hukum itu atas mereka berdua.

Kisah semakin seru dan semakin menegangkan, sehingga harus nonton sendiri di bioskop. Gak seru kalau cuma mbaca di blog ini.

Bagi yang pernah melihat film AAC, maka film ini dibuat lebih berwarna dan membumi, sehingga lebih enak ditonton, meskipun sebenarnya kata “sorban” dalam film ini lebih terkesan sebagai “tempelan” saja.

Mungkin seperti buku Andrea Hirata yang berjudul Maryamah Karpov, yang tidak bicara banyak di dalam bukunya. Kalau suka laskar pelangi, maka pasti suka juga dengan film ini.

Lucunya, atau ironisnya, film yang bertemakan Islam ini diputar pas jam nanggung, maksudnya masuk sebelum asar dan selesai sesudah asar, atau masuk sebelum maghrib dan selesai setelah maghrib.

Jadi gimana caranya mereka menjalankan sholat asar atau maghrib sambil nonton film?

Foto-foto yang dimuat dalam iklan di studio 21 juga menampilkan Revalina tanpa jilbab. Hmm …. jauh beda dengan penampilan Reva sebagai Nisa di film itu.

Aku lebih suka Reva pakai jilbab dibanding nggak pakai jilbab.

Kalau anda?
Pilih mana?

Merokok [gak] HaraM [?]


“Pak Dhe, sebenarnya merokok itu haram nggak sih?”, pertanyaan Udin langsung menuju sasaran. Pak Dhe yang sedang mengeluarkan sebungkus rokok jadi tersenyum.

“Iya pak Dhe, fatwa MUI bahwa merokok itu haram telah merugikan warung mbok Sastro. Sekarang orang pada mikir kalau mau beli rokok disitu”, timpal Khalid.

“Tahu nggak pak Dhe, pak Kiai Sudrun yang tinggal di depan warung mbok Sastro sekarang jadi galak banget gara-gara keluarnya fatwa haram merokok itu”, kata Udin mendukung pernyataan Khalid.

“Kemarin seorang anak kecil ditempeleng tuh ama pak Kiai, gara-gara dia beli rokok di warung dan langsung disulut di depan pak Kiai”, kata Udin melanjutkan.

“Memang kalian dengar fatwa MUI itu darimana?”. Pak Dhe sambil tetap tersenyum mulai ganti bertanya.

“Iya pak Dhe, semua orang sudah tahu itu. Gak perlu tahu darimana berita itu berasal.Berita itu sudah menjadi milik publik pak Dhe”, jawab Udin.

“Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan rokok bagi anak, ibu hamil dan di tempat umum. Apa benar begitu?”, kata pak Dhe.

“Iya ‘kali pak Dhe. Aku juga cuma dengar-dengar kok”, jawab Khalid.

“Nah, apa salahnya dengan fatwa itu? Kalau memang ada salahnya, mari kita luruskan”, kata pak Dhe sambil membolak-balik kotak rokoknya.

“Merokok dan tidak merokok adalah hak individu seseorang. Begitu juga hak tubuh terhadap kesehatan. Seorang anak yang merokok jelas tidak jelas manfaatnya”, kata pak Dhe melucu, tapi Udin dan Khalid tidak menangkap kelucuan itu.

Mereka terlalu serius mendengar jawaban pak Dhe. Apalagi ketika pak Dhe mulai bercerita tentang manfaat dan mudharat rokok, maka merekapun manggut-manggut.

“Saat ini rokok telah banyak mendatangkan pendapatan bagi negara, demikian juga memberikan kontribusi ketidak sehatan pada para perokok, baik pasif maupun aktif.”

“Banyak orang menggantungkan hidupnya pada rokok dan begitu juga banyak orang yang menyerahkan nyawanya untuk rokok”

“Pak Dhe dulu perokok juga, tapi sekarang aku cukup memegang bungkus rokok saja sudah puas. Jadi mari kita puaskan diri dengan hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri maupun -apalagi- orang lain. Mari kita dukung segala usaha untuk memperbaiki kualitas hidup kita maupun kualitas lingkungan kita”

“Tapi sebenarnya merokok itu gak haram kan pak Dhe?” tiba-tiba Edi nimbrung.

“He..he…he… kamu masih merokok ya Ed? Memang di Al Quran tidak ada ayat yang menunjukkan secara jelas bahwa merokok itu haram. Jadi kalau kamu memakai dasar itu sebagai pembenaranmu untuk merokok, ya silahkan saja. Kalau kamu hanya sampai tingkat makruh, ya yakinilah kalau itu adalah pendapat yang benar”

“Seorang ulama yang memutuskan bahwa merokok itu makruh tentu harus dihargai. Ilmunya yang tinggi tentu sudah dipakainya untuk dasar mengeluarkan fartwa merokok itu makruh atau haram. Jadi kita ikut aliran yang menurut kita paling benar saja, kecuali kalau kalian memang berniat jadi ulama, sehingga punya cukup ilmu untuk menentukan makruh atau haram”

“Jadi silahkan tentukan sendiri merokok itu boleh, makruh atau haram. Aku mau wudhu dulu”, pak Dhepun ngeloyor meninggalkan diskusi itu.

“Jadi Rokok gak haram pak Dhe?”, Edi masih mengejar pak Dhe dengan pertanyaannya.

“It’s up to you”, kata pak Dhe sambil tersenyum.

“Kalau pendapat pak Dhe sendiri?”, penasaran, Udinpun ikut mengejar pak Dhe dengan pertanyaannya.

“Aku sudah tidak merokok karena melihat manfaat dan mudharat merokok itu terhadap diriku dan lingkunganku. jadi aku tidak sepakat kalau ada orang yang menganjurkan merokok agar pajak negara makin tinggi”, pak Dhe menjawab sambil terus menuju tempat wudhu.

“Ihh… kali ini pak Dhe muter-muter ya njawabnya. Menurutku pak Dhe pasti menganggap merokok itu haram dan mengharap para pekerja yang bekerja di pabrik rokok untuk cari pekerjaan lain.Iya kan pak Dhe?” Udin terus mengejar pak Dhe yang sudah sampai ke tempat wudhu.

“Sudah adzan tuh, ayuk wudhu”, ajak pak Dhe, sambil mengambil air wudhu

Siang itu, sehabis sholat Dhuhur, di depan mushola, para pecinta rokok terus berdebat dengan mereka yang anti rokok.

Sementara itu pak Dhe memasang stiker “No Smoking” di kaca mushola.

sumber gambar disini dan disini

Pesta Kompasiana

Pesta blogger 2008 telah berlalu, dan tahun 2009 ini ada pesta terbatas yang diadakan oleh Kompasiana. Jika tidak dibatasi, maka dijamin pesta Kompasiana ini akan lebih menggelegar dibanding pesta Blogger 2008.

Ada tiga nama yang terdaftar sebagai peserta dan sudah kukonfirmasikan, berdasar tulisan dari mas Pepih

  1. Pepih Nugraha,
    — 19 Januari 2009 jam 6:57 pm
    Daftar peserta Kopi Darat Pertama Kompasiana, Sabtu 21 Februari 2009 di Bentara Budaya Jakarta:

    del ….

    2. Aris Heru Utomo
    del …
    6. Wijaya Kusumah [belum tak konfirmasi, ini pak Wijaya yang di http://wijayalabs.blogspot.com/2009/01/seni-menghidupkan-hati.html atau yang lain ya?]
    7. Amril Taufil Gobel
    del ….
    32. Eko Sutrisno Hp
    ……. dst

    (Ditambah para jurnalis/networks/guest)
    Catatan:
    Pendaftaran masih dibuka sampai Sabtu, 7 Februari 2009, agar kami memiliki waktu cukup untuk membuat name tag atau nomor peserta. Terima kasih.

Kalau melihat pembaca blog ini yang ribuan [ada satu artikel yang bisa dibaca oleh lebih dari 2.000 kali, maka sebegitu jugalah calon peserta pesta kompasiana ini jika tidak dibatasi [maksudnya pembaca yang dari LNpun akan ndaftar sebagai peserta kalau dapet tiket gratis dari Kompas, he...he...he....:-)]

Sayangnya ruangan kopdar ini cukup sempit, sehingga tentu akan banyak peserrta yang kecewa. Semoga nanti ada lomba penulisan artikel setelah acara selesai, sehingga yang tidak datang bsia merasakan sensasi acara tersebut.

Hadiahnya gak usah yang mahal-mahal, cukup [gambar] laptop Axioo saja + [gambar] hape IphonE Apple3G dan langganan kompas selama setahun.

Semoga sukses acaranya.
Amin.

SUKSES install BlankOn4

Mulai kemarin, aku berhasil Install blankon4 di desktop ku dan di laptop bak Luluk.

Lilo sendiri belum pernah main blankon, karna lebih suka main game gba di Windows. BakLuluk sebenarnya ingin main blankon, tetapi belum sempat baca buku blankon4.

BakLuluk maunya tidak usah baca buku tapi langsung diajarin.

Yuk pake Blankon yuk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tulisan diatas diketik oleh :
M Lilo Al Fadil [anakku yang berumur 8 tahun dan berpura-pura sebagai aku, kalau ada salah ketik ya mohon maaf]

update :

BlankOn4 ini terasa lebih stabil dibanding pendahulunya. Rasanya sudah tidak ada beda antara menggunakan windows dan linux.

Meski demikian, untuk instalasinya sebaiknya tetap membaca dulu buku petunjuk yang ada [panduan praktis dilampirkan di edisi majalah infolinuxbulan Januari 2009], kecuali kalau memang sudah pernah install linux sebelumnya.

Ini keterangan yang bisa diambil dari situs http://dev.blankonlinux.or.id/:

BlankOn merupakan distro turunan Ubuntu; dapat diinstal di atas sistem Ubuntu aslinya (dengan apt-get) atau dengan CD/DVD Repositori. Pada prinsipnya BlankOn hanya menyediakan paket-paket penambahan/pengurangan, berfokus ke pengguna awam, dan membuat distro Linux yang “Just Work” untuk penggunanya. Target utama BlankOn adalah sekolah-sekolah serta usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Situs BlankOn
: http://www.blankonlinux.or.id

Informasi Proyek: https://launchpad.net/blankon

Milis Pengguna
: http://groups.google.com/group/BlankOn

Milis Developer: http://groups.google.com/group/BlankOn-dev

Arsip Paket: http://arsip.blankonlinux.or.id/blankon

Gudang CD: http://cdimage.blankonlinux.or.id/

Dokumentasi Komunitas: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Dokumentasi

Pertemuan Rutin komunitas BlankOn: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/PertemuanRutin

Lokakarya: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Lokakarya/

Pemasaran BlankOn
: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Pemasaran

Ruang Diskusi di IRC: #blankon @ irc.freenode.net (Gabung sekarangLihat log)

Serambi BlankOn: http://serambi.blankonlinux.or.id/

Donasi : http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Donasi