Salah Strategi (lagi)

Senin pagi aku berangkat ke Padang dan Kamis pagi rencananya balik lagi ke Jakarta. Istriku Rabu siang akan ke Malaysia, sehingga ada satu malam dimana anak-anak tidak ditemani oleh orang tuanya, yaitu hari Rabu malam.
Itung-itung, gak masalah anak-anak ditinggal satu hari. Tinggal cari ojek yang sudah bersahabat untuk antar jemput anak di hari Kamis pagi dan ditinggali uang untuk masak/beli lauk pada hari Rabu malam + Kamisnya.
Ternyata, ketika istri kirim SMS bahwa dia sudah di pesawat menuju Malysia, turun perintah untuk tetap di Padang sampai hari Sabtu.
Waduh, aku langsung bertanya pada Tuhan. Hikmah apalagi yang bisa kudapat dari salah strategi yang ini?
Mungkin Tuhan njawabnya,”Nikmat yang mana lagi yang kamu dustakan?”
Mungkin Tuhan njawabnya,”Nikmat yang mana lagi yang kamu dustakan?”
Aku jadi nggak nanya lagi sama Tuhan, kutanya saja pada diriku sendiri. Apa ya yang bisa kuambil kesimpulan dari peristiwa ini.
Kata bank Al,”mungkin anaknya akan makin pinter memanfaatkan uang yang mestinya untuk satu hari menjadi tiga hari” (begitu dalam imajinasiku).
Kata Wak Radit (dalam imajinasiku juga),”Yang penting ada kecap Bango di rumah, pasti aman. Toh anak-anak sudah pinter masak nasi sendiri”
Alhamdulillah, ada bibi-bibi yang mau nemani anak-anak. Meskipun aku belum kenal (betul) dengan bibik ini, tapi aku harus berprasangka baik. Siapapun dia (aku memang gak tahu namanya, karena dia memang baru kukenal, wajahnyapun aku sulit mbayangkan kayak apa dia), juru penolong telah tiba.
Tinggal mikir, bagaimana cara ngirim duit untuk beli lauk di hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Alhamdulillah, stafku berbaik hati meminjami uang ke temanku dan dan temanku mampir ke rumahku untuk menyerahkan uang pinjeman itu.
Semua masalah akhirnya “closed”. Kesalahan startegi telah dibayar dengan keluwesan negosiasi ditambah nasib baik (artinya Tuhan masih memberi jalan keluarnya).
Terima kasih Tuhan, memang hanya kepadaMu aku menyembah dan meminta pertolongan.
Alhamdulillah.

