sunrise

Pulau Rambut : Untung aku (akhirnya) ikut

Setelah menyatakan ikut menyaksikan pelatikan Komunitas Fotografer Kagama Virtual di Pulau Rambut, aku langsung membayar biaya pendaftaran sebesar 300 ribu. Tentu aku mikir juga, bagaimana uang sebesar ini akan memuaskan peserta yang puluhan jumlahnya. Padahal kalau dibaca urutan acara, banyak acara makan, minum, pembagian hadiah dan hal-hal lain yang butuh dana.

Apa mungkin uang sebanyak itu cukup untuk biaya perjalanan ke Pulau Rambut pulang pergi? Belum lagi biaya makan minum, sewa tempat, tenda, tikar dll yang tentu juga perlu uang. Yang lebih jhoss lagi adalah semua peserta mendapat kaos gratis. Jujur saja, aku ndaftar karena penasaran dengan biaya yang begitu murah dibanding apa yang akan kita dapatkan disana.

Pulau Rambut surganya para burung

Waktu terus berlalu dan makin dekat dengan hari H, ternyata aku malah makin tidak semangat ikut ke Pulau Rambut. Aku ragu-ragu dengan apa yang akan kudapat di Pulau itu dibanding kalau aku pergi ke Jogja dan bertemu Anis kekasih hatiku. Namun semangat untuk ke Pulau Rambut tetap ada di hatiku, sehingga akupun mulai mengontak satu demi satu orang yang mungkin bisa mengarahkan aku tentang apa yang harus kubawa dan apa saja yang memang wajib dibawa.

Pulau Rambut bukan pulau wisata, jadi pasti tidak ada restoran ataupun warung. Sabun biasa juga tidak bisa dipakai disini karena airnya asin dan tidak ada air tawar. Sabun yang biasanya begitu nyaman dipakai dijamin tidak sakti di pulau ini. Hutan untuk berburu (motret) margasatwa di pulau ini juga membuatku malas. Maklum aku cukup dicintai serangga, jadi kalau mau masuk hutan pasti keluar dari hutan sudah bentol-bentol kulitnya.

Kagama Virtual Gathering di Pulau Rambut

Ternyata panitia kekurangan beberapa hal yang secara teori bisa kupenuhi. Yang pertama “TOA” untuk pengeras suara dan satunya mobil untuk mengangkut peserta bolak balik ke Teluk Naga. Sejak di Pekanbaru aku sudah kontak ke teman kantor untuk menyiapkan TOA karena aku akan ke pulau Rambut untuk memimpin acara “ice breaking”.

Sampai di airport Soeta aku langsung menuju kantor Waskita di Cawang untuk memastikan bahwa besok aku bisa membawa TOA ke acara gathering ini. Semua terlihat lancar dan under controlled, sampai akhirnya kendala muncul satu demi satu.

Pesawat terlambat dari Jakarta, sehingga dari Pekanbaru ikutan terlambat. Sampai di Jakarta, macetnya tidak ketulungan. Biasanya meskipun ramai, tapi arah Cengkareng Cawang cukup lancar. Ternyata hari ini tidak terjadi seperti yang kuharapkan.

Sampai di kantor aku mencari TOA yang besok akan kubawa. Ternyata barangnya tidak ada di mejaku, padahal kantor sudah bubaran. Maklum hari Jumat, jadi semua orang berlomba pulang. Untung masih ada bagian maintenance yang belum pulang. jadi aku bisa minta tolong mereka untuk mencarikan TOA yang kumaksud.

Ternyata pemahaman akan merk TOA ini berbeda antara aku dan temanku. Toa menurut mereka adalah megaphone, sementara aku menganggap TOA adalah wireless mice dengan dua buah mic wireless. Untung kita selalu berbaik sangka, sehingga tidak ada ketegangan yang terjadi, meskipun dalam hati aku sudah tegang.

Alamat tidak jadi bawa mic wireless nih gara-gara permintaanku yang kurang jelas.

Wireless mic ternyata tidak berada di tempatnya. Akupun tiba-tiba tersadar bahwa aku ternyata sudah panik. Tidak seru kalau acara ice breaking memakai megaphone, jadi secara naluri wajahkupun berubah menjadi penuh ketegangan.

Temanku rupanya menangkap aura yang sedang melingkupi diriku, sehingga dia berusaha keras untuk dapat menemukan mic wireless. Akhirnya dengan sedikit melakukan pelanggaran, maka wireless mic dapat dikeluarkan dari ruangan yang terkunci. Kisahnya jadi mirip Mission impossible.

Menanam bakau di Pulau Rambut

Menanam bakau di Pulau Rambut

Dengan lega aku bisa menikmati malam yang panjang menanti munculnya matahari terbit di hari Sabtu. Rasanya waktu berjalan begitu pelan dan aku tetap terjaga sampai akhirnya adzan berkumandang dan akupun langsung mandi dilanjutkan menunggu Indri, salah satu panitia yang akan menemaniku melewati perjalanan Cawang – Soetta – Teluk Naga.

Sampai di Teluk Naga, kulihat tidak banyak peserta yang membawa tas sebesar aku. Rata-rata mereka membawa tas kecil saja. Aku sendiri karena mengikuti saran panitia, jadi membawa tas yang cukup besar. Isinya, mulai dari senter, Aqua besar, sarung, sajadah, obat-obatan pribadi, tisue basah, lotion anti nyamuk (berbagai merek), perlengkapan mandi (handuk, sabun dll) serta pakaian tiga setel.

Wah terlalu banyak rupanya bawaanku. Belum lagi aku harus membawa tas camera yang lumayan berat juga, karena membawa beberapa lensa, dan perlengkapan pemotretan lainnya. Akhirnya aku cuek saja dan berangkatlah ke Pulau Rambut. Badan yang basah oleh keringat dan terkena terpaan air laut yang asin membuatku merasa risi dan pingin segera mandi.

Ketika akhirnya aku masuk ke salah satu kamar mandi, maka hilanglah selera mandiku. Kayaknya aku memutuskan untuk tidak banyak bergerak saja agar tidak keringatan dan aku tidak perlu mandi sampai kembali lagi ke Jakarta.

Ternyata peserta gathering ini semuanya bersemangat (mungkin karena semuanya sebaya, termasuk pak Hatta). Jadilah aku berjalan kesana kemari, basah oleh keringat dan malamnya memutruskan untuk tidak mandi. Anakku pasti tersenyum kalau membaca bagian ini. Maklum aku biasanya terkenal rajin mandi dan suka ngomel kalau melihat anaknya tidak segera mandi.

Lotion anti serangga juga akhirnya tidak kupakai, meskipun aku sudah keluar masuk hutan dan terkena berbagai duri serta tergigit oleh beberapa serangga. Pertandingan bola antara Timnas dengan Inter Milan rupanya juga tidak membuat peserta meninggalkan acara games di malam hari (hanya diterangi lampu emergency).

sunrise

sunrise

Sungguh damai malam itu melihat semua teman-teman yang kebanyakan belum pernah bergaul secara akrab menjadi sangat akrab dan bisa bercerita dari hati ke hati. Capek badan akhirnya membuatku tertidur meskipun hanya sebentar. Rupanya kebiasaanku mandi pagi tidak bisa kutinggalkan. Jam 03.30 akupun menuju ke kamar mandi dan mulai mengguyur badanku dengan air asin dan tebukti sudah sabunku tidak sakti, Tak ada busa yang keluar ketika kusabuni tubuhku.

Kebiasaanku ini pula yang akhirnya membawaku menerima doorprize sebuah celana pendek MERAH menyala. Terima kasih panitia, terima kasih semua teman-teman. Sampai ketemu gathering spesial di Jogja pada bulan Desember nanti.

Salam sehati.

Menunggu matahari terbit

Menunggu matahari terbit

hunting foto

Pulau Rambut : Photography Couching Clinic

“Sekarang ini semua camera sama saja kok, mau Nikon atau Canon pada dasarnya sudah sama. Beda dengan kondisi sepuluh tahun lalu, dimana dua penganut agama (Canon dan Nikon) saling mengklaim merk yang mereka panuti sebagai merk terbaik”

“Benar, kalau mau yang prestise jangan bicara Canon atau Nikon, tapi bicara Hasselblad. Ini camera yang harganya sudah ratusan juta”

“Hahahaha…. padahal spesifikasinya tidak jauh beda dengan Canon atau Nikon ya”

“Kalau mau lagi, boleh tuh tenteng Leica yang harganya sudah milyard”

nikon canon

Diskusi para penggemar fotografi di pulau Rambut ini berlangsung seru. Ilmu para peserta diskusi ini memang sangat beragam dan sangat jauh bedanya, sehingga saat kuusulkan untuk secara resmi diadakan Couching Clinic, mereka malah keberatan. maklum kalau pesertanya tidak homogen mereka akan kesulitan memberikan materinya.

Peserta gathering para pecinta fotografi di Pulau Rambut ini memang terdiri dari berbagai kelas, mulai dari yang tidak bawa camera, yang bawa camera tapi masih sangat amatir, sampai yang sudah tingkat profesional, meskipun mereka tetap tidak mengaku sebagai tukang foto profesional.

Jadilah couching clinic dilakukan secara langsung di lapangan. Kita perhatikan mereka saat melakukan pemotretan dan kita tanya yang bisa kita tanyakan.

Nikon dari NU (Non UGM)

“Lampu blitz jadi barang haram bagi sebagian tukang foto, karena akan mengurangi nilai natural sebuah obyek”

“Teknik slow speed sangat rentan terhadap gangguan obyek yang tidak diinginkan, jadi lokasi pemotretan harus bebas dari gangguan obyek yang tidak diinginkan oleh pemotret”

Perbedaan tingkat pemahaman dari para peserta acara ini akhirnya menjadi sebab terjadinya beberapa gangguan sesi pemotretan dengan modus slow speed. Frame yang sudah disetel sedemikian rupa ternyata dimasuki oleh obyek yang tidak diinginkan. Hal ini terjadi karena pemahaman yang jauh berbeda terhadap sesi pemotretan sunrise.

Canon

Paa sesi pemotretan tanpa lampu di malam hari hal ini tidak terjadi, karena semua peserta lebih banyak yang ngobrol di tenda, teras maupun meringkuk di kamar, tapi pada sesi pemotretan sunrise, hampir semua peserta ikut di lokasi pemotretan. Para tukang fotopun bisa melakukan explore dermaga dalam gelap malam. Mereka baru berhenti motret ketika batere camera sudah tidak bisa diajak bekerja lagi.

Pada sesi pagi (sunrise), gangguan pertama diawali dari camera pocket yang disetel otomatis, sehingga langsung menghidupkan lampu kilat ketika dipakai untuk memotret.

Gangguan kedua terjadi ketika ada seorang peserta yang berjalan di dalam frame camera. Ketika diminta untuk balik ke pantai dan tidak berdiri di tanggul pantai, dia merasa tidak perlu balik ke pantai, karena dia tidak menyadari bahwa dia sudah masuk dalam frame para pemotret dan sosoknya akan menganggu bidikan para pemotret. Mungkin dia mengira para pemotret mengkhawatirkan dia jatuh ke laut, padahal dia tidak takut jatuh ke laut, jadi kenapa harus balik ke pantai?

Bukaan camera yang berlangsung sampai beberapa menit akan merekam jejak orang yang berjalan di atas tanggul pantai sebagai obyek yang tidak jelas, kecuali kalau orang tersebut mampu diam tanpa bergerak selama kondisi lensa camera sedang merekam gambar.

Ternyata memang sangat asyik mengikuti para profesional melakukan pengambilan gambar. Pada sesi pemotretan burung atau binatang melata, cara pemotretan berbeda lagi. Perlu ada kecepatan yang tinggi untuk menangkap obyek bergerak dan siap mengikuti pergerakan obyek bergerak dengan tembakan ganda, bukan tembakan tunggal.

“Kalau motret burung dan matanya tidak kelihatan rasanya kurang mantap”

“Jadi ingat cameranya mas RDP yang bisa memotret secara beruntun seperti senapan mesin”

“Jangan menakuti obyek, jangan memakai pakaian yang mencolok, dekati dengan hati-hati obyek yang mau dipotret dan jangan sampai obyek terganggu dengan kehadiran kita”

Mengintip obyek dibalik rimbun dedaunan

Dari balik rimbun hutan, para pemotretpun saling berlomba membidik binatang buruan mereka. Sepatu yang cocok, topi dan baju lengan panjang wajib dipakai untuk menghindari gangguan selama pemotretan. Beberapa tempat memang membuat sandal kita jadi hancur, demikian juga kulit kita jadi sering kena duri kalau tidak memakai baju lengan panjang.

Kotoran burung sempat kuterima dan meskipun sudah memakai topi, tetap saja kotoran burung itu membasahi baju dan kulit leherku. Banyak sekali kendala saat melakukan sesi pemotretan ini, tetapi herannya semua tetap bersemangat untuk keluar masuk hutan. Sesi pemotretan di hutan memang mengundang bekerjanya adrenalin di tubuh.

“Ayo mas Eko, masuk hutan lagi, lumayan sejam bisa dapat banyak foto sambil nunggu kedatangan kapal”

“Gak usah pakai baju macem-macem, pakai sarung saja sudah beres”

Ajakan ini terpaksa tidak kuikuti karena ada acara pesan dan kesan para peserta sebelum dijemput kembali ke pulau Jawa bagian teluk Naga. Acarapun ditutup dengan sangat manis, karena ternyata semua kesan peserta sangat puas dengan acara ini.

“Saya sudah menyiapkan diri untuk hidup sengsara di pulau Rambut ini, tanpa air tawar, tanpa listrik dan tanpa warung”

“Mandi pakai sabun tetap tidak terasa sedang mandi. Airnya asiin banget”

“Ada cerita seram di balik pulau Rambut ini yang bikin merinding”

Semua hal negatip itu hanya disampaikan tetapi tetap tidak menyurutkan kenikmatan mereka mengikuti acara gathering para pemotret Komunitas Kagama Virtual. Luar biasa semangat kebersamaan ini.

hunting foto

(bersambung)

+++

Spesifikasi Leica H4D-40 adalah sebagai berikut; sensor medium format beresolusi tinggi 40 MP, Hasselblad True Focus dan lensa HC 80mm f/2.8.

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Pulau Rambut : Suaka Margasatwa (Kagama Virtual Gathering)

“Suami saya tidak bisa ikutan, jadi saya ajak anak untuk ikut acara ini. Pas lihat perahu yang akan membawa rombongan kita ke Pulau Rambut, hati langsung ciut. Sayang mobil saya sudah terlanjur pulang, jadi akhirnya ikut terbawa arus dan ikut naik perahu. Alhamdulillah, ternyata acaranya keren banget !:-)”

“Saya bukan alumni UGM, tapi ternyata saya langsung akrab dengan peserta gathering photografi ini. Acaranya sangat padat dan menarik. Terima kasih sudah diajak”

“Saya berangkat dengan perasaan akan menjadi yang paling narsis di acara ini, ternyata peserta lain banyak yang lebih narsis dibanding saya”

“Acara yang sangat menarik, apalagi saya langsung mendapat pasien di acara ini. Rekening menyusul ya !:-)”

Berbagai macam testimoni para peserta hampir semuanya senada, meskipun diucapkan dengan gaya berbeda. Ini memang acara gathering yang sangat luar biasa. Baik dari sisi acara, maupun lokasi yang dipilih, Pulau Rambut.

Pulau Rambut

Sebagai pulau yang tertutup untuk kegiatan wisata, maka adalah sebuah keberuntungan rombongan alumni UGM bisa melakukan eksplorasi pulau Rambut ini, dengan ditemani para tukang foto profesional yang tidak pelit ilmu. Tuan rumah dan tamu begitu menyatu dalam semua acara dan saling bersinergi.

Meski sangat sedikit, hanya ratusan buah, rombongan sempat melakukan acara menanam pohon bakau, sebagai kepedulian kita akan rusaknya ekosistem di kepulauan seribu. Pulau yang tidak dipakai untuk kegiatan komersial ini, ternyata secara rutin selalu menerima kiriman sampah dari pulau lain. Sepanjang keliling pulau ini tumpukan sampah merata dan terlihat bukan dari hasil sampah dari pulau ini. Berbagai macam sampah rumah tangga dan styrofoam terlihat mendominasi sampah yang ada di sekeliling pulau.

Inilah PR (pekerjaan rumah) kita semua.

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Menanam pohon bakau di Pulau Rambut

Pulau Rambut sebenarnya sangat indah, tapi kalau dibuka untuk umum, tidak bisa dijamin pulau ini akan lebih baik dari kondisi saat ini. Hanya mereka yang cinta akan margasatwa dan ekosistem yang dijamin akan ikut membuat pulau ini menjadi lebih baik.

Rombongan alumni UGM termasuk dari kalangan NU (non UGM), mendarat di pulau ini menjelang makan siang dan langsung kuikat dengan beberapa permainan. Aku awali dengan saling bergandeng tangan, saling memijat sambil bergerak untuk menghilangkan efek males atau capek setelah menyeberang lautan yang berombak.

Perkenalan para peserta kulakukan dengan menyebutkan nama dan barang yang akan mereka bawa bila pergi ke Bulan. Ternyata banyak peserta yang bsia memahaminya dan seperti biasa masih juga ada peserta yang sampai acara selesai belum paham juga dengan “clue’ dari permainan ini.

“Nama saya Eko dan saya akan ke bulan dengan membawa Ember !”

“Nama saya Ona dan saya akan membawa Odol”

Dari dua hal tersebut tentu sudah bisa ditebak hubungan antara nama dan barang yang akan dibawa, tetapi ternyata, seperti biasa, selalu saja ada yang sampai acara selesai masih juga belum paham. Ini memang kelebihan game sederhana “Mau Pergi ke Bulan”.

Setelah acara perkenalan, maka dilanjutkan dengan acara pertandingan antara kelompok cewek dan kelompok cowok yang ternyata jumlahnya berimbang. Permainan ini dimenangkan oleh kelompok cewek, sehingga mereka berhak untuk makan siang lebih dahulu, sementara para cowok melanjutkan persiapan hunting ke hutan untuk menyaksikan satwa, baik yang melata di tanah maupun dan terutama satwa yang terbang di aatas pohon.

Begitu makan siang selesai, maka para cewekpun sudah siap dengan perlengkapan hunting mereka. Mulai dari camera jenis ponsel sampai ke camera semi profesional. Sedangkan beberapa pecinta foto profesional memang terdiri dari kaum bapak yang mempersenjatai dirinya dengan camera plus telelens di atas 300 mm.

Hasil jepretan mereka jelas jauh di atas hasil jepretanku yang hanya mengandalkan Nikon D5100 plus lensa 18-270 mm alias lensa sapu jagad (bersambung)

burung terbang di Pulau Rambut

burung terbang di Pulau Rambut

nikon canon

Wisata ke Pulau Rambut

Sabtu-Minggu ini, 26-27 Mei 2012, rombongan cowok dan cewek yang tergabung dalam Kagama Virtual akan berwisata lingkungan ke Pulau Rambut. Inilah lokasi burung-burung bebas berkeliaran dan tugas kita mengabadikan serta merawat habitatnya.

Untuk teman-teman yang akan kePulau Rambut, ini himbauan dari panitia :

PERSIAPAN DAN PERLENGKAPAN

Pulau Rambut merupakan kawasan suaka margasatwa sehingga tidak ada kehidupan sosial masyarakat, hanya ada beberapa bangunan yang dipakai sebagai pos jaga/tempat istirahat, yang nantinya akan digunakan untuk tempat menginap untuk kita, untuk itu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan ;

  1. Membawa topi rimba dan baju lengan panjang untuk menghindari serbuan kotoran dan muntahan burung. Jika terganggu para penghuni Pulau Rambut sering mengebom dengan kotoran dan ikan yang sudah diproses di temboloknya.
  2. Bilamana khawatir dengan sunburn selama perjalanan dengan kapal, ada baiknya memakai sunblock.
  3. Membawa lotion anti nyamuk bisa membantu mengurangi serbuan nyamuk hutan, meskipun begitu Pulau Rambut bukanlah daerah epidemik Malaria.
  4. Memakai sepatu boot atau sepatu trekking, namun cukup menggunakan sepatu gunung bilamana trekking berjalan mengikuti jalur yang sudah ada.
  5. Membawa air minum 1,5L (wajib) dan makanan pribadi (bagi yang suka ngemil) karena di pulau ini tidak ada pedagang yang berjualan.
  6. Membawa kamera (baik itu kamera HP, kamera poket maupun d/SLR) untuk mengabadikan moment dan temen² disana. Untuk kamera d/SLR disarankan membawa lensa tele (>200 mm)
  7. Membawa teropong untuk acara birdwatching bilamana punya. Pihak BKSD hanya menyediakan beberapa buah saja.
  8. Membawa obat²an pribadi (wajib) untuk mengantisipasi bilamana penyakit datang tiba².
  9. Membawa raincoat dan plastik besar atau tas kedap air untuk mengamankan kamera, teropong, dan peralatan elektronik bilamana hujan turun.
  10. Membawa sleeping bag bilamana merasa lebih nyaman untuk tidur atau alergi terhadap udara malam
  11. Membawa senter untuk membantu penerangan di malam hari & colokan listrik universal/colokan T/roll cable untuk berbagi listrik ketika men-charge peralatan elektronik yg dibawa.
  12. Peralatan Ibadah
  13. Tissue basah
  14. Baju ganti untuk bila ingin berbasah-basahan
  15. Alat pancing bilamana ingin memacing
  16. Sun Glasses untuk bergaya

Rasanya pingin segera pagi dan meluncur ke Pulau Rambut. Tunggu ya hasil foto-foto di pulau rambut ya. Cuma lagi kesulitan nih. Milih bawa Canon 60D atau Nikon D5100 atau G12 Canon saja ya?

  1. Lensa Canon 60 D : 18-55 mm dan 55-250 mm
  2. Lensa Nikon D5100 : 18-55 dan 18-270 mm
  3. Canon G12 : 5x optic dan 20x digital zoom

Nah pilih mana hayo?

nikon canon

nikon canon

+++

Baca juga ini : Yuk tanam pohon di Pulau Rambut

bayern chelsea2012

Liga Champion : Chelsea pasti kalah melawan Bayern Muenchen

“Chelsea pasti kalah melawan Bayern Muenchen“, ucap Khalid pasti. Udin tentu saja langsung terusik meskipun tetap santai dalam menjawab ucapan Khalid.

“Darimana kesimpulan itu didapat mas?”

“Bayern sengaja santai dalam pertandingan di luar liga Champion karena ingin pasukannya bisa konsentrasi full di liga Champion”

“Bukankah Chelsea juga melakukan hal yang sama dengan tidak ngotot memperebutkan urutan di klasemen liga Inggris?”

“Beda mas. Chelsea memang kalah dari Liverpool bukan mengalah atau kalah karena main santai”

“Jadi Bayern juga hanya santai menghadapi Dortmund dan kehilangan tahta liga Jerman? Terus kenapa Bayern yang harus menang melawan Chelsea?”

“Bayern tuan rumah mas!”

“Apakah sejarah selalu bicara kalau tuan rumah selalu menang dalam laga final Champion? Tidak kan?”

“Kali ini Bayern yang akan menang mas, aku yakin itu!”

“Mas, bola itu bundar dan selalu unik dari tahun ke tahun. Selalu ada sejarah terulang dan selalu ada anomali dalam pentas Champion. Tengok saja bagaimana klub sebesar Barca atau Madrid akhirnya harus tersungkur di ajang ini. Padahal mereka kurang apa coba?”

“Mereka kurang beruntung mas dan Muenchen yang beruntung tahun ini”

“Wah susah nih kalau diskusi dengan fans fanatik Muenchen, hahahaha…..” Udinpun ngeloyor menuju Mushola untuk sholat Dhuhur dan makan siang. Khalid tentu saja terus menempel Udin, karena hanya Udin yang bisa melayani diskusi dengan penuh antusias.

Usai sholat Duhur, pembicaraan tentang bola makin seru. Inilah tontonan bola yang patut disimak, setelah semua liga menyelesaikan pertandingan terakhirnya.

Madrid yang selalu ada dalam bayangan Barca beberapa tahun ini akhirnya sukses menekuk Barca. Juve juga sudah sukses merebut trophy liga. Manchester City melalui pertarungan yang sangat dramatis juga sukses merebut gelar yang sudah 44 tahun tidak pernah singgah. Tahun depan bahkan City berani sesumbar untuk meraih segala trophy di berbagai kejuaraan.

Inilah tahun bola yang indah bagi para penggemar bola. Perebutan tahta begitu menegangkan di beberapa pertandingan terakhir. Bandar judi juga mungkin ikut senam jantung melihat para unggulan yang berguguran, meskipun mereka kayaknya tetap juga meneguk keuntungan siapapun yang menang.

Malam ini penentuan juara liga Champion akan ditentukan dan menurut Khalid, Bayern yang akan merebut piala Champion. Bagaimana menurut anda?

+++

Sumber gambar FB